AmboinaPendapat

Dari Salon ke Ruang Kelas: Perjuangan Transpuan di Ambon Menemukan Ruang Hidup

Bagi Christine, jembatan itu pernah hadir dalam akses layanan kesehatan melalui pendampingan Yayasan Sagu Salempeng. Bagi orang lain, bentuknya mungkin berbeda: bantuan administrasi, dukungan hukum, atau sekadar teman yang menemani ke kantor pelayanan.

Persoalan seperti ini membuat ukuran keberagaman menjadi lebih nyata. Sebuah kota dapat menyebut dirinya inklusif, tetapi ukuran pengalaman warga berada pada hal-hal sederhana: apakah seseorang dapat masuk ke tempat pelayanan tanpa dihina, apakah ia dapat memperoleh pekerjaan berdasarkan kemampuan, dan apakah ia dapat meminta bantuan ketika sedang kesulitan.

Ketika Orang Basudara Diuji

Bagi budayawan dan akademisi Universitas Pattimura, Prof. Dr. Alohiab Watloly, nilai orang basudara berakar pada pengalaman kebudayaan masyarakat kepulauan.

Laut, dalam pengalaman orang Maluku, bukan hanya pemisah. Ia juga menghubungkan. Orang yang berlayar memahami bahwa keselamatan dapat bergantung pada kesediaan orang di pulau lain untuk membuka pintu dan berbagi makanan atau air.

Dari pengalaman itu, Watloly menyebut tumbuh “imajinasi rasa”: kemampuan merasakan kehidupan orang lain sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sendiri.

Suasana kota Ambon di waktu malam 2 1
Suasana Kota Ambon di malam hari.(Foto: Dok. Indonesiakaya.com)

“Mungkin kita tidak pernah bertemu muka dengan mereka. Namun hati dan rasa kita telah dididik oleh tradisi untuk mengenal dan menyapa mereka sebagai saudara. Itulah esensi hakiki dari nilai orang basudara,” katanya.

Namun nilai itu, menurut Watloly, justru diuji ketika berhadapan dengan orang yang berbeda.

“Kalau kita hanya mau mengaku bersaudara dengan orang-orang yang memiliki kesamaan pandangan, kesamaan identitas, atau kesamaan latar belakang dengan kita saja, maka lantas di mana letak keindahan dan keutamaan dari nilai orang basudara itu?”

Pertanyaan itu membawa isu transpuan keluar dari ruang identitas dan masuk ke persoalan kebudayaan: sejauh mana sebuah nilai persaudaraan berlaku ketika seseorang tidak sesuai dengan identitas atau ekspresi yang dianggap umum oleh masyarakat.

Wakil Ketua DPRD Kota Ambon, Gerald Mailoa, melihat Pela Gandong dan falsafah orang basudara masih menjadi kekuatan sosial masyarakat Maluku.

“Budaya yang ada di Maluku ini, budaya Pela Gandong, itu yang cukup kuat di kita. Falsafah orang basudara, Pela Gandong, potong di kuku rasa di daging, itu yang sangat kuat untuk menjamin kita punya masyarakat yang ada di negeri adat, supaya tidak ada orang yang diperlakukan secara semena-mena,” katanya.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11Next page

Berita Serupa

Back to top button