“Miss pernah ditawar untuk mengajar pada sebuah SMA di Kota Ambon untuk guru honor kala itu, zaman COVID. Tapi Miss tanyakan lagi apakah bisa beta dengan cara berpakaian seperti ini,” kenangnya.
Ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa ruang kerja formal belum sepenuhnya siap menerima ekspresinya secara terbuka, Christine memilih menahan diri tanpa menyimpan dendam.
“Tapi tidak masalah, Miss sudah menyiapkan diri untuk segala situasi, jadi ketika ditolak tuh Miss menahan diri lah, dengan ikhlas begitu,” ucap Christine, yang pernah menyandang gelar Miss Waria lokal, dengan tenang.
Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Tidak pula terdengar nada ingin menyalahkan seseorang. Ia seperti seseorang yang sudah lama belajar bahwa hidup tidak selalu menyediakan pintu yang bisa dibuka dengan mudah.
Maka ketika sebuah pintu tertutup, Christine memilih mencari jalan lain. Jika ruang kelas formal belum siap menerimanya, ia menciptakan ruang kelasnya sendiri di tengah masyarakat.
Menggunakan strategi mengajar yang adaptif, terarah, dan intensif sesuai daya tangkap tiap anak –mulai dari murid SD hingga anak pejabat daerah– ia merangkul murid-muridnya dengan pendekatan personal yang fleksibel. Ia tetap mengajar. Tetap bekerja. Tetap melayani jemaat.

Di gereja, ia bahkan dipercaya menjadi Koordinator Unit 3 pada Sektor Trigis, Jemaat Gereja Protestan Maluku Galala/Hative Kecil, Ambon. Ia bertugas mengarahkan dan memimpin pelaksanaan persekutuan, pelayanan, dan kesaksian gereja di lingkungan unit, termasuk mengelola program pelayanan jemaat. Christine tidak memilih pergi.
Kesempatan untuk pindah ke kota-kota besar seperti Jakarta atau Bali pernah terbuka melalui ajakan sesama aktivis maupun rekan sejawatnya. Di kota-kota tersebut, ruang berekspresi bagi kelompok minoritas sering dianggap lebih longgar karena masyarakatnya lebih anonim.
Namun setelah berdiskusi dengan orang tua serta mempertimbangkan kenyamanan, penerimaan warga, jaringan pelanggan salon, dan ladang pelayanannya yang sudah meluas di Ambon, Christine mantap memilih untuk bertahan.
“Buat saya, Ambon itu adalah rumah,” katanya. Kalimat itu sederhana. Namun bagi seseorang yang pernah mengalami penolakan di lingkungan keluarga sebelum perlahan mendapatkan kembali penerimaan melalui karya dan hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun, rumah bukan sekadar alamat. Rumah adalah tempat seseorang merasa dirinya masih memiliki ruang untuk menjadi manusia.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



