Vhiandra bukan pejabat publik. Bukan pula tokoh yang wajahnya setiap hari muncul di layar televisi. Namun bagi sebagian transpuan dan kelompok terpinggirkan di Ambon, namanya kerap menjadi salah satu yang pertama dicari ketika persoalan datang.
Masalahnya kadang sederhana. Mengurus KTP elektronik atau Kartu Keluarga, misalnya. Tetapi bagi seseorang yang identitas gendernya tidak selalu mudah diterjemahkan ke dalam sistem administrasi, persoalan administratif dapat berubah menjadi persoalan panjang.
Ada pula yang kesulitan mengakses layanan kesehatan. Ada yang kehilangan pekerjaan atau diusir dari indekos setelah identitasnya diketahui. Ada yang datang hanya karena sudah terlalu lelah menghadapi cibiran.
“Sering kali mereka hanya ingin didengarkan. Karena ketika semua orang sibuk menghakimi dan memberi penilaian moral, orang akhirnya lupa bahwa mereka yang terpinggirkan ini juga adalah manusia yang memiliki perasaan dan hak yang sama,” kata Vhiandra saat diwawancarai pada Jumat, 24 Juli 2026.
“Saya transpuan yang hidup, tumbuh, dan besar di Kota Ambon,” ujarnya. Bagi Vhiandra, Ambon bukan tempat persinggahan. Di kota ini ia mengenal keluarga, persahabatan, laut, hujan, dan kebudayaan yang membentuk dirinya.

“Yang paling saya sukai dari tinggal di Kota Ambon yaitu budaya lokalnya yang hangat serta keberagaman masyarakatnya yang sangat kaya,” terangnya.
Pengalaman Vhiandra menunjukkan sesuatu yang menarik. Kehidupan seorang transpuan di Ambon tidak selalu identik dengan pengusiran atau kekerasan terbuka. Ia mengaku diterima keluarga inti, lingkungan tempat tinggal, teman-teman kampus, dan rekan kerja.
Christine mengalami perjalanan yang berbeda. Ia pernah berhadapan dengan pintu ruang kerja formal yang tidak terbuka sepenuhnya. Dua pengalaman itu memperlihatkan bahwa penerimaan tidak pernah sesederhana label toleran atau tidak toleran. Ada ruang yang terbuka. Ada pula pintu yang masih tertutup.
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih besar: apa yang membuat sebagian orang yang dianggap berbeda tetap dapat menemukan ruang hidup di Ambon? Dan apakah ruang tersebut benar-benar tersedia bagi semua kelompok rentan?
Kota yang Pernah Terluka
Pertanyaan itu tidak dapat dilepaskan dari sejarah kota ini. Ambon pernah mengalami konflik sosial yang meninggalkan luka sangat dalam pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Kekerasan yang dikesankan antar kelompok agama merobek permukiman, memisahkan warga, dan meninggalkan trauma yang dirasakan lintas generasi. Namun pengalaman tersebut juga melahirkan kesadaran tentang mahalnya harga sebuah perdamaian.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



