AmboinaPendapat

Dari Salon ke Ruang Kelas: Perjuangan Transpuan di Ambon Menemukan Ruang Hidup

Sifatnya yang luwes dan mudah beradaptasi membuat Christine merasa nyaman dan diterima di mana pun ia tinggal di sudut Kota Ambon, mulai dari kawasan Wayame, Tantu, Aster, Galala, Hative, hingga Poka.

Interaksinya dengan warga sekitar dan perangkat RT terjalin sangat baik. Bahkan ketika sesekali berhadapan dengan ‘cat calling’ atau siulan di jalanan, Christine menghadapinya dengan santai, responsif, dan menganggapnya sebagai bagian dari dinamika serta euforia sosial warga yang cair.

“Ada juga cat calling-cat calling, tapi lama-kelamaan juga dia jadi barang biasa. Miss aktif kalau urusan itu Miss aktif sekali. Jadi, interaksinya paling aktif. Dua arah,” selorohnya diiringi tawa ringan. 

Mereka yang Didengar

Beberapa kilometer dari tempat Christine menjalani aktivitasnya, pagi di Ambon dimulai dengan kesibukan yang lain. Vhiandra sudah lebih dahulu terjaga. Sebagai seorang transpuan yang aktif bergerak dalam advokasi sosial dan kemanusiaan, harinya selalu dipenuhi dengan dinamika mendampingi sesama.

Sebelum berangkat bekerja, ia menyapa tetangga. Kebiasaan kecil itu berlangsung seperti aktivitas warga lainnya.

Vhiandra
Vhiandra saat menjadi peserta pada salah satu pertemuan kelompok rentan tingkat nasional di Kedutaan Swiss, Jakarta.(Foto: Dok. Vhiandra)

Tetapi telepon genggam di tangannya segera mengubah pagi menjadi rangkaian persoalan orang lain. Pesan datang dari anggota komunitas yang membutuhkan pendampingan. Ada seseorang yang kebingungan mengurus dokumen kependudukan karena penampilan fisiknya tidak lagi sesuai dengan data administrasi lama.

Ada pula warga rentan yang sedang sakit dan membutuhkan bantuan untuk mengakses layanan kesehatan di puskesmas atau rumah sakit. Tidak semuanya merupakan keadaan darurat. Sebagian orang hanya ingin bercerita. Mereka menghubungi Vhiandra karena sedang lelah menghadapi tatapan canggung, komentar pedas, atau penolakan di ruang publik. Vhiandra mendengarkan.

Setelah memastikan kebutuhan penjangkauan awal tertangani, ia menuju tempat kerjanya di sebuah yayasan yang bergerak di bidang advokasi kesehatan dan hak asasi manusia.

Hari-harinya diisi pertemuan dengan mitra, pendampingan lapangan, koordinasi dengan pemerintah, serta diskusi mengenai hak-hak kelompok rentan. Ia bekerja bersama orang-orang dari berbagai latar belakang suku, agama, dan identitas sosial.

Setelah jam kantor selesai, hari Vhiandra belum berakhir. Ia menuju kampus untuk mengikuti perkuliahan malam hingga sekitar pukul delapan atau sembilan. Pada akhir pekan, jika tubuhnya tidak terlalu lelah, ia pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga besar.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11Next page

Berita Serupa

Back to top button