Rosa menegaskan lembaganya tidak meminta perlakuan khusus. “Yang kami perjuangkan dengan gigih adalah agar mereka diperlakukan secara setara sebagai warga negara dan sebagai manusia yang memiliki hak-hak dasar yang sama,” katanya.
Persoalan ekonomi membuat isu keberagaman menjadi lebih konkret. Ketika pekerjaan formal sulit diakses, sektor informal menjadi tempat bertahan. Ketika penghasilan tidak menentu, biaya transportasi ke fasilitas kesehatan, obat, dan kebutuhan dasar lain ikut menjadi beban.
Dengan begitu, pertanyaan tentang penerimaan tidak berhenti pada apakah seseorang boleh hadir di ruang publik. Pertanyaannya adalah apakah ia dapat bertahan hidup dan mengakses hak dasarnya sebagai warga.
Antara Penerimaan dan Batas
Di tengah semua cerita itu, ada satu hal yang mudah luput: penerimaan sosial tidak selalu berbentuk pernyataan besar. Ia bisa muncul dalam keputusan-keputusan kecil yang membuat seseorang tetap merasa menjadi bagian dari lingkungan.
Christine merasakannya dalam hubungan dengan tetangga, perangkat RT, jemaat, pelanggan salon, dan murid-murid lesnya. Ia tidak hanya hadir sebagai seorang transpuan. Ia hadir sebagai penata rias, guru les, anggota jemaat, dan orang yang bersedia membantu ketika orang lain membutuhkan.

Peran-peran tersebut membuat hubungan sosial dibangun melalui perjumpaan sehari-hari. Orang mengenal Christine melalui pekerjaan dan pelayanan yang dilakukannya, bukan semata melalui identitasnya.
Namun pengalaman itu tidak otomatis menghapus batas. Tawaran menjadi guru honorer yang tidak berlanjut memperlihatkan bahwa penerimaan di satu ruang belum tentu berlaku di ruang lain.
Hal serupa terlihat dalam pengalaman Vhiandra. Ia dapat diterima oleh keluarga dan lingkungan kerja, tetapi pada saat yang sama harus mendampingi orang lain yang mengalami persoalan administrasi, kesehatan, pekerjaan, dan tempat tinggal.
Karena itu, keberagaman tidak cukup dibicarakan dalam bahasa toleransi. Toleransi dapat menjadi titik awal, tetapi kehidupan sehari-hari menuntut sesuatu yang lebih konkret: kesempatan yang setara dan layanan yang dapat digunakan tanpa rasa takut dipermalukan.
Di sinilah peran organisasi masyarakat sipil menjadi penting. Pengalaman Rosa memperlihatkan bahwa kelompok rentan sering kali datang ketika masalah telah menyentuh kebutuhan paling dasar. Pendampingan kemudian menjadi jembatan antara seseorang dan sistem yang seharusnya dapat diaksesnya.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



