Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa pesan grup di telepon genggamnya untuk memantau kabar jemaat yang membutuhkan pelayanan –mulai dari doa pergumulan, ulang tahun, pernikahan, hingga jemaat yang sakit– lalu meneruskan informasi tersebut.
“Terus Miss pasti cek HP, katong punya grup dari grup pelayanan di gereja dulu. Ada keluarga yang butuh pelayanan pergumulan dari majelis, untuk ulang tahun kah, pernikahan kah, ataupun ada yang sakit katong pasti cek di situ,” ceritanya antusias mengenai rutinitas paginya.
Setelah itu ia menuju salon, berlanjut mengajar les hingga malam, bahkan hingga hari Minggu. Khusus hari Jumat, ia mendedikasikannya penuh untuk mengajar anak-anak unit gereja seusai ibadah.
Di sela rutinitas itu, ia masih menjalankan pelayanan di gereja, mendampingi kegiatan komunitas, serta membantu advokasi bagi sesama transpuan yang membutuhkan dukungan hukum ataupun sosial.
Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa Ketua Divisi Advokasi Gaya Warna Lestari (GWL) Maluku, yang setiap hari mereka lihat bekerja di salon itu merupakan sarjana Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Pattimura Ambon.

Gelar tersebut tidak diperolehnya dengan mudah. Perjalanan kuliahnya berlangsung lebih dari satu dekade sejak pertama kali merantau dari Saumlaki, Ibukota Kabupaten Kepulauan Tanimbar, ke Kota Ambon pada tahun 2005.
Masa mudanya sempat diwarnai kelabilan, berulang kali berpindah program studi, hingga akhirnya berfokus di kelas reguler extension sejak 2011. Lika-liku dinamika keluarga dan keterbatasan biaya memaksa Christine menjalani kuliah sambil bekerja di salon.
“Karena kuliah sambil kerja di salon, Miss harus sisihkan uang sedikit demi sedikit buat bayar kuliah. Walau prosesnya lama sekali, puji Tuhan Miss bisa selesaikan studi dan wisuda tahun 2018,” cerita Christine.
Ijazah itu menjadi penanda bahwa sebuah perjalanan panjang telah dituntaskan. Tetapi setelah lulus, persoalan lain menunggunya. Christine pernah memperoleh kesempatan mengajar sebagai guru honorer pada sebuah sekolah swasta di Ambon saat masa pandemi COVID-19.
Secara akademik ia memiliki bekal yang memadai. Ia juga memiliki pengalaman mengajar dan kemampuan bahasa Inggris yang dapat diandalkan. Namun, ada sesuatu yang membuat pintu ruang kerja formal itu tidak sepenuhnya terbuka.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



