AmboinaPendapat

Dari Salon ke Ruang Kelas: Perjuangan Transpuan di Ambon Menemukan Ruang Hidup

Oleh: Embong Salampessy (potretmaluku.id)


Rumah yang Dipilih

Menjelang siang, sebuah salon kecantikan di Kota Ambon mulai ramai. Suara pengering rambut bersahutan dengan percakapan para pelanggan. Aroma sampo bercampur dengan wangi kosmetik. Di antara kesibukan itu, Christine (38) menjalani pekerjaannya seperti hari-hari biasa.

Ia bekerja sebagai penata rias dan pekerja salon. Pekerjaan ini dilakoninya dengan sistem upah harian yang tidak terikat dengan pemilik salon. Sang bos sangat memaklumi serta memberikan toleransi penuh atas berbagai kesibukan sosial dan pelayanan Christine di luar.

“Tapi Miss punya kerja itu seng terikat dengan Miss punya bos, karena digaji harian. Jadi ketika bos tahu Miss punya kesibukan di luar, orangnya sangat mentoleransi itu,” ungkap Christine yang oleh kenalan dan para sahabatnya, akrab disapa Miss ini, saat dijumpai di Kantor Yayasan Sagu Salempeng, Kota Ambon, Jumat, 24 Juli 2026.

Melalui kursi salon itu pula, berawal dari perbincangan hangat serta pelanggan yang mengetahui latar belakang pendidikannya, tawaran mengajar les privat mulai berdatangan dari mulut ke mulut.

Waktu itu ada pelanggan di salon yang tahu bahwa Christine bisa berbahasa Inggris dengan baik. Lalu setelah ngobrol-ngobrol, orangnya kemudian menawarkan Chritine buat mengajar les privat bahasa Inggris buat dia.

christine 1
Christine saat memberikan les privat bahasa Inggris di Ambon.(Foto: Dok. Christine)

“Sejak itu Miss mulai beri les privat Bahasa Inggris,” kenang Christine mensyukuri ritme pekerjaannya.

Salon kemudian bukan satu-satunya ruang yang membentuk kehidupan transpuan ini. Menjelang sore, Christine berganti peran. Buku panduan tata bahasa Inggris dan lembar latihan soal dimasukkannya ke dalam tas. Ia kemudian berjalan kaki atau menumpang kendaraan umum menuju rumah-rumah warga untuk mengajar anak-anak sekolah.

Sebagian muridnya merupakan peserta les privat yang membayar jasanya. Penghasilan dari mengajar privat ini cukup signifikan untuk menopang perekonomian bulanan Christine.

Sebagian lainnya adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu di lingkungan gereja yang didampinginya. Untuk mereka, Christine mengajar tanpa memungut biaya, kecuali iuran administrasi sebesar Rp10.000 untuk pengadaan alat tulis dan bahan latihan.

Siklus harinya berjalan padat dari pagi hingga malam. Karena jadwal les dan kegiatan pelayanan dominan berlangsung dari siang hingga malam, Christine biasa bangun dan memulai aktivitas sekitar pukul sembilan atau sepuluh pagi.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11Next page

Berita Serupa

Back to top button