MalukuMaluku TengahNasionalSeribu Pulau

Saat Laut Menutup Pintu, Daratan Membuka Isyarat

Pengetahuan Lama di Tengah Iklim yang Berubah (2)

Di Persimpangan Tradisi dan Sains

Nanaku dianggap sebagai sistem peringatan dini yang unik dan efektif bagi masyarakat lokal di Maluku. Di Maluku Tengah, seperti Liang, Waai dan Tial, itu dikembangkan untuk memberikan peringatan dini tentang potensi bencana, seperti banjir, gempa bumi, tsunami, dan lainnya. Keberadaan Nanaku memangkas birokrasi peringatan dini yang seringkali lambat karena kendala teknis atau sinyal.

Cerita Nanaku itu dimulai dari pengalaman pahit masyarakat yang pernah mengalami bencana besar di masa lalu. Mereka menyadari bahwa peringatan dini sangat penting untuk menyelamatkan nyawa dan harta benda. Dengan Nanaku, masyarakat dapat lebih siap dan waspada terhadap potensi bencana. Luka masa lalu diubah menjadi kebijaksanaan masa depan.

Mereka dapat mengambil tindakan pencegahan yang tepat, seperti mengungsi ke tempat yang lebih aman, dan menyelamatkan harta benda mereka. Kendati pengetahuan lokal itu diyakini efektif.

Namun tidak ada upaya mengintegrasikan pengetahuan masyarakat lokal itu dalam sistem peringatan dini. Ada semacam dinding pemisah antara laboratorium sains dan perpustakaan hidup masyarakat adat.

“Budaya Nanaku itu memang kita tidak mengintegrasikan kedalam sistem peringatan dini. Tetapi untuk peringatan dini, kita melakukannya melalui sosialisasi berdasarkan laporan perkembangan cuaca dari BMKG,” kata Kepala BPBD Maluku Tengah, Nova Anakotta. Pengakuan ini menunjukkan perlunya jembatan antara kebijakan negara dan kearifan rakyat.

Nova mengakui, nanaku sangat identik dengan budaya orang Maluku sebagai upaya peringatan dini, sepeti membaca tanda alam saat datang musim timur, barat dan juga musim selatan.

Namun sebelum memasuki musim-musim tersebut, BPBD sudah melakukan sosialisasi maupun edukasi kepada masyarakat untuk waspada terhadap potensi bencana yang bisa saja terjadi pada musim-musim tertentu, baik terhadap banjir rob, banjir bandang maupun lainnya. Sosialisasi ini sayangnya seringkali hanya bersifat satu arah dan kurang menggali kekayaan data dari warga.

Sosialisasi dan edukasi peringatan dini terhadap potensi bencana dari BPBD itu dilakukan berdasarkan program kegiatan yang telah disusun sesuai anggaran yang tersedia. Di wilayah Kecamatan Salahutu sendiri, dua tahun terakhir tidak ada, karena keterbatasan oleh anggaran.

Meski begitu, ada upaya kerjasama dengan beberapa LSM untuk masuk melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di Salahutu. Ketergantungan pada anggaran negara membuat sistem keselamatan warga menjadi rentan, di sinilah Nanaku mengisi kekosongan tersebut secara gratis dan mandiri.

“Ada beberapa LSM yang sudah masuk di Salahutu untuk melakukan sosialisasi terkait upaya mitigasi bencana guna meningkatkan pengetahuan dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana,” tuturnya.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6 7 8Next page

Berita Serupa

Back to top button