Saat Laut Menutup Pintu, Daratan Membuka Isyarat
Pengetahuan Lama di Tengah Iklim yang Berubah (2)
“Kita petani di kampung ini biasanya nanaku tanda-tanda alam, seperti munculnya awan yang disebut ‘Naga Alam’ atau awan berbentuk garis memanjang lurus membelah langit dari timur ke barat. Begitu juga awan putih berbentuk sisik ikan. Itu cocok untuk menanam,”jelas Abdurahman.
Deskripsi visual tentang ‘Naga Alam’ ini memberikan gambaran betapa puitisnya cara leluhur mereka mengklasifikasikan fenomena meteorologi.
Di Negeri Waai dan Negeri Tial, tradisi yang sama juga berlaku. Waktu yang baik untuk mendapatkan ikan yang baik di laut, maupun untuk memulai bercocok tanam merujuk pada tanda-tanda alam tertentu. Ada semacam sinkronisasi antara ekosistem darat dan laut yang dijaga lewat tradisi ini.
Nanaku Sebagai Mitigasi Bencana
Mengamati tanda-tanda alam atau ‘Nanaku’ menjadi salah satu cara efektif dalam meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana, seperti banjir, gempabumi, tsunami dan sebagainya.
Baik di Negeri Liang, Waai maupun Tial, konsep kearifan lokal berupa pengetahuan tradisional itu hingga kini masih dijaga hingga turun-temurun. Kearifan ini adalah perisai budaya yang membuat mereka tidak panik saat alam mulai menunjukkan sisi gelapnya.
Salah satu keunikan dari budaya tersebut, masyarakat bisa tahu akan terjadi banjir besar melalui perubahan warna air dari sumur. Seperti salah satu sumur tua di Negeri Liang. Masyarakat Liang menyebutnya dengan nama Wae Hula (air meluap) yang terletak di tepi jalan utama.

Air sumur itu berasal dari dalam tanah. Air itu biasanya meluap saat hujan deras. Wae Hula adalah simbol koneksi antara hidrologi bawah tanah dengan perilaku awan di atas kepala.
Mereka percaya kondisi sumur dapat memberikan tanda-tanda awal akan terjadinya banjir lokal. Perubahan itu berkaitan langsung dengan meningkatnya permukaan dan warna air tanah akibat curah hujan yang tinggi. Sumur ini bertindak sebagai alat ukur kejenuhan tanah (soil moisture) yang sangat akurat.
Jamal Samoal (65 tahun), salah satu warga di sekitar sumur tua itu menyebut, jika permukaan air itu meningkat signifikan, itu mengindikasikan terjadi hujan deras di wilayah pegunungan.
Mereka juga meyakini, jika warna air sumur Wae Hula yang jernih itu berubah menjadi keruh bahkan berwarna coklat kemerahan disebabkan masuknya endapan lumpur, pasir halus dan material organik, itu pertanda akan terjadi banjir yang mengalir dari area pegunungan. Warna merah coklat ini adalah sinyal evakuasi; ia membawa kabar bahwa tanah di pegunungan sudah tak sanggup lagi menahan beban air.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



