Saat Laut Menutup Pintu, Daratan Membuka Isyarat
Pengetahuan Lama di Tengah Iklim yang Berubah (2)
“Jadi kalau kita mau tahu ada banjir besar, itu dari sumur itu. Kalau warna air itu merah, pertanda banjir besar dari gunung. Dan masyarakat yang berdomisili dari sekitar aliran sungai sudah harus waspada,” kata Jamal. Warga kemudian akan mengungsi ke tempat tinggi, membawa barang berharga, tanpa menunggu sirene dari BPBD.
Pengetahuan sudah sejak dulu. Air sumur itu biasanya meluap deras pada saat musim angin timur, yang intensitas hujan saat itu cukup tinggi. Bahkan air meluap hingga menggenangi jalan utama.
“Sampai sekarang, belum ada masyarakat yang menjadi korban dari fenomena tersebut. Meski terjadi banjir sekalipun, karena masyarakat tidak membangun rumah di sekitar bantaran sungai yang rawan,” terangnya. Ini adalah bentuk tata ruang tradisional yang jauh lebih patuh pada hukum alam dibanding aturan birokrasi.
Menariknya, fenomena yang sama juga ditemukan di Negeri Tial. Sekretaris Negeri Tial, Arfan Rolobessy mengaku, masyarakat mengetahui tanda-tanda akan terjadinya banjir dari satu mata air yang terletak tak jauh dari perkampungan.
Mata Air itu disebut oleh masyarakat A’oun Hata. A’oun Hata adalah nadi desa yang memberikan kehidupan, namun juga bisa memberikan peringatan.
Mereka meyakini perubahan karakteristik mata air Aoun Hata seperti peningkatan debit air yang meluap menjadi indikasi awal karena berhubungan langsung dengan permukaan air tanah (akuifer) yang merespon cepat kondisi hidrologi disekitarnya. Secara teknis, masyarakat sedang melakukan pengamatan tekanan hidrostatik tanpa mereka sadari.
“Kalau di sini kita bilang A’oun Hata, itu satu mata air di belakang kampung kalau sudah meluap berarti itu akan terjadi banjir. Kalau ilmiahnya, mungkin karena intensitas hujan yang tinggi,” jelas Arfan. Penjelasan Arfan menyatukan dua dunia: dunia tradisi yang berbasis rasa dan dunia modern yang berbasis data.
Setiap musim hujan, masyarakat sering nanaku tanda-tanda perubahan yang terjadi pada mata air A’oun Hata itu, sebagai upaya memitigasi bencana banjir yang kemungkinan berdampak terhadap lingkungan dan masyarakat di Tial.
“Tapi masyarakat sudah mengantisipasi itu dengan membentengi bangunan rumah, dan tidak lagi membangun rumah di sekitar bantaran sungai,” katanya. Pembatasan pembangunan di area rawan banjir ini menunjukkan bahwa Nanaku juga mempengaruhi kebijakan adat dalam penggunaan lahan.
Tak hanya itu, masyarakat di Tial juga memiliki tradisi nanaku pada sebuah kali mati yang terletak di ujung kampung. Kali mati itu bernama Wae Salate. Dari Kali mati itu, mereka bisa mengetahui bahwa kapan waktu musim angin timur itu berakhir.
Kali mati yang kering sepanjang tahun namun tiba-tiba dialiri air menjadi jam biologis bagi perpindahan musim.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi


