CuacaLingkunganMalukuMaluku TengahNasionalSeni BudayaSeribu Pulau

Saat Laut Menutup Pintu, Daratan Membuka Isyarat

Pengetahuan Lama di Tengah Iklim yang Berubah (2)

Oleh : Sam Usman Hatuina (jurnalis potretmaluku.id)

“Ketika laut menjadi ruang paling berbahaya, justru daratan berubah menjadi sumber petunjuk. Di sinilah Nanaku menunjukkan wajah lain, sebagai penanda waktu, penentu tanam, sekaligus alarm bencana.”

Sekitar empat kilometer dari pemukiman warga di Negeri Liang, hidup seorang petani tua bernama Abdurahman Mony (71 tahun). Ia telah menghabiskan sebagian besar hidup bersama istri dan empat orang anak di hutan.

Dia mengandalkan tanah yang subur untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hutan baginya adalah apotek sekaligus lumbung, tempat di mana setiap desis daun memiliki makna.

Meski pernah mengikuti penyuluhan pertanian, Abdurahman masih tetap mengandalkan tanda-tanda alam sebagai penanda waktu untuk memulai bercocok tanam. Musim angin barat mungkin diinterpretasikan sebagai waktu yang tidak aman bagi nelayan untuk melaut.

Tapi bagi petani itu menjadi waktu yang tepat untuk memulai bercocok tanam, baik tanaman pangan, hortikultura maupun tanaman perkebunan. Ini adalah paradoks alam yang indah; saat laut menutup pintunya, daratan justru membuka tangan lebarnya.

Sedangkan musim angin timur dan selatan daya, dinilai tidak tepat bagi petani untuk bercocok tanam. Iklim yang tidak menentu menyebabkan tanaman tidak sehat.

Pengetahuan itu dipraktikkan secara turun-temurun, yang berfungsi sebagai panduan praktis melengkapi metode ilmiah. Metode ilmiah memberikan teori, namun Nanaku memberikan konteks lokal yang sangat presisi.

“Musim barat itu memang panas, tapi ada waktu hujan juga. Oleh orang tua terdahulu disebut sebagai hujan utara. Jadi kalau selesai musim timur, langsung tanam saat masuk musim barat. Itu waktu tepat agar tanaman subur dan berkepanjangan, utamanya tanaman pangan,” kata Abdurahman.

Ia tahu, hidup sebagai seorang petani tidak selalu mudah, tapi tidak lantas membuatnya menyerah. Dia percaya alam selalu memberikan apa yang ia butuhkan.

Awan putih menyerupai sisik ikan tidak hanya dianggap sebagai tanda ikan sedang mencari makan di permukaan laut, tapi menjadi pertanda baik bagi Abdurahman sebagai petani tradisional.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3 4 5 6 7 8Next page

Berita Serupa

Back to top button