MalukuMaluku TengahNasionalSeribu Pulau

Saat Laut Menutup Pintu, Daratan Membuka Isyarat

Pengetahuan Lama di Tengah Iklim yang Berubah (2)

Kepala Bagian Data dan Informasi BMKG Pattimura, Merson Panggua mengatakan, pemanasan global (global warming) yang terjadi di wilayah Maluku belakangan ini berdampak terhadap perubahan iklim.

Hal itu menyebabkan perubahan jangka panjang pada pola iklim, seperti curah hujan, pola angin, dan cuaca ekstrim. Perubahan ini membuat ‘buku alam’ yang dibaca masyarakat sedikit lebih sulit dipahami karena bab-babnya mulai berantakan.

Merson mengakui, pemanasan global menyebabkan terjadinya pergeseran pola angin, sehingga musim angin timur maupun angin barat yang dahulunya terjadi pada bulan tertentu, kini bergeser. Ketidakteraturan ini adalah musuh utama bagi nelayan tradisional yang mengandalkan keteraturan musim.

Ia menuturkan, berdasarkan pengamatan BMKG, terjadi pergeseran waktu musim. Baik terhadap musim timur maupun musim barat.

“Misalnya musim hujan yang menurut pengamatan masyarakat lokal itu puncaknya terjadi pada bulan Juni, Juli dan Agustus, sekarang telah di bulan Maret. Itu disebabkan karena adanya pemanasan global,” kata Merson. Pergeseran ini menuntut masyarakat untuk melakukan kalibrasi ulang terhadap metode Nanaku mereka.

Dia mengakui, masyarakat lokal memiliki cara tersendiri yang disebut nanaku, untuk mengamati arah dan musim angin, warna air laut, dan tanda-tanda alam lainnya yang diwariskan secara turun-temurun untuk meminimalisir risiko bencana. BMKG melihat ini sebagai mitra pasif, namun belum menjadikannya sebagai sumber data sekunder yang divalidasi.

“Biarkan budaya itu tetap hidup, kami tidak mau mengintervensi cara masyarakat membaca alam. Kami juga tidak bisa merujuk pada kearifan lokal. Karena informasi yang kami sampaikan itu berdasarkan analisis data yang komprehensif,” katanya. Ada kehati-hatian profesional di sini, namun juga ada peluang kerja sama yang terlewatkan.

BMKG mengumpulkan data dari jaringan stasiun pengamatan, baik di laut, darat, maupun udara serta menggunakan data satelit dan radar cuaca. Data yang terkumpul yang kemudian dianalisis oleh para ahli melalui metode ilmiah untuk mengidentifikasi pola dan tren. Kenyataan yang ada, sains memberikan gambaran makro, sementara Nanaku memberikan detail mikro yang terkadang luput dari satelit.

“Nah dari analisis tersebut, BMKG merumuskan informasi seperti prakiraan cuaca, peringatan dini bencana untuk disampaikan ke masyarakat. Jadi tugas kami memberikan pelayanan informasi cuaca kepada public berdasarkan analisis ilmiah,”ujarnya.

Kata Merson, BMKG juga membangun jalur komunikasi yang sederhana dan strategis agar bisa menjangkau masyarakat melalui WhatsApp grup. “Di grup itu ada berbagai unsur, baik dari pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat bahkan juga para wartawan sebagai simpul penyebaran informasi,” imbuh Mersen.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6 7 8Next page

Berita Serupa

Back to top button