Saat Laut Menutup Pintu, Daratan Membuka Isyarat
Pengetahuan Lama di Tengah Iklim yang Berubah (2)
Akademisi lingkungan Unpatti lainnya, Prof. Yustinus T. Male mengatakan, ada yang namanya tingkat kepemahamanan sains. Jadi yang beredar di masyarakat itu sering disebut mitos. Namun dalam metode ilmiah, kesimpulan awal itu namanya hipotesa. Untuk memetakan hipotesa itu, diperlukan beberapa tahap.
Misalnya survei, kemudian pengambilan sampel atau pengamatan, kemudian mencari hubungan sebab akibat, dan mengambil kesimpulan. Tapi perlu diingat bahwa ilmu pengetahuan ini berkembang dari hal-hal yang tanpa diduga terus jadi pengetahuan baru.
Ia katakana, di Maluku, banyak kejadian yang bisa di prediksi sebelumnya seperti kearifan lokal Nanaku, itu sebenarnya ada penjelasan ilmiahnya. Contohnya, saat gunung mau meletus, itu hewan-hewan seperti kupu-kupu dan lain sebagainya pada turun. Itu karena ada fenomena alamnya, dan orang-orang sudah mendapat tanda-tandanya.
“Nah, misalnya air sumur di Liang dan di Tial, tentu kalau dia terjadi secara berulang, itu ada dasar ilmiahnya. Jadi ada istilah metafisika, dimana alam menjelaskan dengan hukum-hukum dasarnya,” kata Prof. Yustinus. Metafisika di sini bukan berarti kegaiban, melainkan hukum alam yang bekerja di balik layar yang bisa kita indera.
Dosen Fakultas MIPA Unpatti itu menjelaskan, alam itu punya hukum, hukum kekekalan energi. Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Sehingga ada angin karena ada pergeseran udara. Memahami Nanaku berarti memahami cara energi bergerak di lingkungan kita.
“Maksud saya adalah, kalau kejadian itu berulang, misalnya setiap mau banjir dari gunung, timbul tanda-tandanya di sumur, itu pasti ada fakta ilmiahnya seperti ada batuan tertentu yang larut. Kecuali didahului dengan ritual tertentu, itu kita tidak bisa jelaskan secara sains,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya riset kimia air pada sumur-sumur penanda tersebut untuk mengungkap rahasia ilmiahnya.

Menurutnya, pengetahuan lokal itu paling identik dengan orang Maluku. Misalnya, sebelum ditemukan bahwa daun giawas (jambu biji) itu mengandung zat untuk mengobati diare, daun afrika untuk untuk darah tinggi, para leluhur sudah tahu itu sejak dulu. Etnobotani dan etnomitigasi adalah harta karun yang belum digali sepenuhnya.
“Sejak kapan mengenal medis, tapi nenek moyang dan leluhur kita yang hidup sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu sudah mengenalnya,”tuturnya.
Bahkan terkait gejala-gejala alam pun demikian, para leluhur di Maluku telah mengetahuinya, jauh sebelum adanya metode satelit dan sebagainya. Harusnya, budaya Nanaku itu harus dijadikan basis mitigasi oleh masyarakat.
Pemerintah daerah harus menangkapnya sebagai muatan lokal yang berisi pengetahuan lokal. Nanti tugas akademisi atau ilmuan yang mencari dasarnya. Ini adalah panggilan untuk kolaborasi transdisipliner antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat adat.
Bila perlu pemerintah daerah membukukan atau mendokumentasikan kekayaan budaya membaca tanda-tanda alam melalui ‘local wisdom’ (kearifan lokal) sebagai warisan tak benda yang tak ternilai harganya. Karena suatu saat, itu bisa hilang. Digitalisasi Nanaku bukan berarti menghilangkan esensinya, melainkan mengawetkannya untuk generasi Z yang mulai terputus dari akar.
“Maksud saya adalah kita harus ajarkan ini ke anak cucu kita, bahwa ada saat-saat tertentu dimana kita tidak terhubung dengan teknologi, namun kita harus bisa survive. Contoh, saat orang berlayar tanpa kompas lalu mengalami kecelakan laut, mereka sudah bisa tahu jalur penyelamatan,” tandas Yustinus.
Di tengah iklim yang kian tak menentu, pertanyaannya bukan lagi apakah Nanaku relevan, melainkan apakah negara siap belajar dari bahasa alam, yang selama ini menyelamatkan warganya, tanpa anggaran, tanpa aplikasi, tanpa sinyal.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



