Nasional

Dari Eksplorasi Afro Beat hingga Cerita Anak Kompleks yang Penuh Makna

Perjalanan Muria dan Lagu “Brangkat”

Ada momen-momen tertentu ketika musik tidak sekadar jadi latar tapi benar-benar hadir, mengisi ruang, bahkan menggerakkan tubuh tanpa diminta. Itulah yang saya rasakan sore itu, ketika duduk bersama Muria di sebuah kafe di kawasan Tanah Tinggi.

Oleh: Tiara Salampessy (jurnalis potretmaluku.id)


Di tengah obrolan santai, ia memutar sebuah lagu dari ponselnya. Belum sampai beberapa detik, kaki saya sudah mulai ikut bergerak. Badan bergoyang pelan, mengikuti ritme yang terasa hangat, santai, tapi tetap punya “isi”.

“Ini lagu baru, judulnya Brangkat,” kata Muria, santai.

Nama Muria atau Muhammad Asy’ari bukan nama baru di dunia musik independen, khususnya dari Maluku. Kini menetap di Yogyakarta, ia dikenal sebagai rapper dengan lirik yang kuat, penuh wacana, dan tidak lepas dari identitasnya sebagai anak timur. Tapi di lagu ini, ada sesuatu yang terasa berbeda.

“Brangkat” bukan sekadar lagu baru. Ia adalah simbol fase baru dalam perjalanan bermusik Muria.

“Lagu ini pertama kali beta belajar dan ngulik Afro Beat,” ujarnya sambil menikmati sukun goreng. “Irama ini bikin orang goyang pelan, joget kecil-kecil. Tapi tetap ada cerita di dalamnya.”

Afro Beat jadi ruang eksplorasi baru. Muria tidak hanya mencoba genre ini, tapi benar-benar menyelaminya. Ia belajar ulang, membongkar kebiasaan lama, dan mencoba menemukan bentuk baru dari dirinya sebagai musisi.

Dan menariknya, eksplorasi itu tidak datang dari ruang kosong.

Pengaruh Musik Maluku Belanda

Dalam proses pencarian itu, Muria menemukan inspirasi dari musisi Maluku yang berada di Belanda. Sebuah skena yang menurutnya punya warna sendiri.

“Pertama secara musik, menurut beta musik teman-teman di Belanda itu kayak punya universe sendiri,” jelasnya. “Dong bisa bawakan Afro dengan style Maluku Belanda dari karakter sampai liriknya.”

Bagi Muria, ini bukan sekadar referensi, tapi sesuatu yang layak digali lebih dalam. “Menurut beta itu menarik untuk dikulik. Bisa jadi identitas juga, karena musik itu seng bisa lepas dari keadaan sosial.”


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button