MalukuMaluku TengahNasionalSeribu Pulau

Saat Laut Menutup Pintu, Daratan Membuka Isyarat

Pengetahuan Lama di Tengah Iklim yang Berubah (2)

Grup WhatsApp ini efektif menjadi jembatan digital, namun sinyal internet yang sering hilang saat badai membuat Nanaku tetap menjadi raja di lapangan.

Ingatan yang Menyelamatkan

Nanaku merupakan budaya masyarakat lokal di Maluku, yang berfungsi sebagai pemandu hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Nanaku menekankan pada perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara bijak berdasarkan pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun melalui tuturan oleh para tetua adat.

Ini adalah etika lingkungan yang tidak diajarkan di bangku sekolah, melainkan dipelajari di teras rumah, di tengah ladang dan di atas sampan.

Pengetahuan itu mencakup pemahaman mendalam tentang ekosistem lokal, termasuk siklus alam dan perilaku satwa. Nanaku mengajarkan pentingnya hidup selaras dengan alam, menghormati tanda-tanda dan siklusnya. Keberlanjutan alam adalah prasyarat bagi keselamatan manusia.

“Nanaku itu bukan tahayul, tapi anugerah Tuhan kepada manusia, agar bagaimana manusia dapat merespons perubahan alam,” kata Dr. Jeffry E. M. Leiwakabessy, seorang akademisi Universitas Pattimura (Unpatti) bidang Sosiologi Lingkungan. Ia berpendapat bahwa Nanaku adalah bentuk sains warga yang telah teruji secara empiris oleh waktu.

Menurutnya, budaya nanaku itu lebih identik dengan masyarakat adat di Maluku, bahkan hidup dalam keseharian, mengikat manusia dengan adat, lingkungan, dan sesama. Budaya itu hadir dalam bentuk tuturan, oleh masyarakat Maluku disebut kepatah. Kepatah adalah ‘coding’ budaya yang menyimpan data keamanan publik selama ribuan tahun.

Nanaku merupakan pengetahuan yang telah teruji oleh waktu. Ia berfungsi sebagai sistem sosial dan ekologis. Dalam perspektif sosiologi lingkungan, Nanaku punya peran penting sebagai mitigasi bencana.

Modernisasi memang datang membawa teknologi, aplikasi cuaca, dan informasi instan, namun tidak serta-merta menggerus pengetahuan lokal masyarakat yang telah menjadi pedoman sejak dahulu. Justru di era ketidakpastian tinggi, kearifan lokal ini menjadi jangkar stabilitas.

“Seperti longsor di Sumatera Utara, itu akibat manusia gagal merespons alam dengan bijak. Tanah digerus tanpa memikirkan dampak, tanda-tanda alam diabaikan,” terangnya. Dr. Jeffry melihat Nanaku sebagai rem bagi eksploitasi alam yang ugal-ugalan.

Menurutnya, menjaga budaya nanaku tetap berlaku, bukan berarti menentang modernitas, tetapi sebagai pengingat. “Nanaku harus tetap berdiri sebagai ingatan kolektif, pengetahuan yang tidak tertulis, tetapi hidup,” tandasnya.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6 7 8Next page

Berita Serupa

Back to top button