AmboinaLingkunganMaluku Tengah

Menjaga Negeri dalam Iklim yang Tak Lagi Bisa Ditebak

Musim tak lagi datang dengan janji. Hujan turun tanpa aba-aba, panas menyelinap di sela angin lembap. Di negeri-negeri adat seperti Tulehu dan Hutumuri, perubahan iklim terasa bukan di layar berita, tapi di tubuh yang demam, kebun yang kering, laut yang tak lagi bersahabat. Tapi di tengah cuaca yang tak menentu, warga tetap menjaga negerinya, dengan kebiasaan lama, nyanyian adat, dan keteguhan yang tumbuh di tanah yang terus berubah.

Udara pagi itu lembap dan berat. Sisa hujan semalam masih menetes dari atap-atap rumah kayu di Negeri Tulehu, membentuk ritme pelan di jalanan kampung. Nona Papilaya, 43 tahun, duduk di beranda rumah keluarganya, menatap langit kelabu yang enggan berganti cerah.

“Sekarang hujan datang tidak tentu,” ujarnya lirih. “Kalau terlalu lama begini, anak-anak cepat sakit.”

Di negeri tetangga, Hutumuri, yang terletak di lereng perbukitan, Kecamatan Leitimur Selatan, Yohanis Waas, 67 tahun, petani yang juga hakim adat setempat, menyambung cerita. “Dulu panas panjang, sekarang hujan dan panas datang bersamaan.”

Musim yang kacau ini tak hanya membuat tubuh mudah sakit, tapi juga mengguncang ritme hidup yang selama ini berpijak pada alam. Bagi masyarakat adat di pesisir Maluku, perubahan iklim bukan sekadar soal cuaca. Ia menyusup ke dalam tubuh, dapur, bahkan relasi antarwarga.

Penyakit Tak Lagi Punya Musim

Tahun 2019, banjir besar menerjang Dusun Hurnala Dua, Tulehu. Lima rumah semi permanen di tepi sungai tak sempat diselamatkan, hanyut bersama arus yang meluap tiba-tiba. Rumah-rumah itu berdiri terlalu dekat dengan aliran sungai, hanya tiga sampai empat meter dari bibir air. 

tulehu5
Pemandangan udara Negeri Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Terlihat permukiman padat di tepi pantai dengan dermaga panjang yang menjorok ke laut biru jernih, berlatar belakang bukit yang ditutupi vegetasi hijau.(Foto: Dok @Keleproject)

“Air meluap dari jalur sungai, satu minggu baru surut,” kata Sudarmadji Lestaluhu, 65 tahun, Sekretaris Negeri sekaligus Hakim Adat Tulehu.

Sejak itu, warga membangun talud sebagai pelindung. Tapi upaya itu belum tuntas. Di bagian atas dusun, saluran air masih mentah. Banjir mungkin tak datang setiap tahun, namun musim pancaroba membuat masyarakat hidup dalam ketidakpastian.

Dulu, kata Sudarmadji, musim hujan bisa diprediksi. Kini, istilah lokal seperti mangente, atau menjenguk datangnya musim hujan, tak lagi relevan. “Cuaca sekarang sulit ditebak. Kadang panas, kadang hujan lama,” ujarnya.

Kondisi ini juga memengaruhi pola penyakit. Di Tulehu dan Hutumuri, penyakit kini tak lagi memilih waktu. Catatan puskesmas terdekat menunjukkan pola keluhan warga yang terus berulang: batuk, demam, infeksi pernapasan, dan penyakit tropis lainnya.

“Sekarang tidak bisa bilang ini musim pilek atau musim malaria,” ujar Samuel Kappuw, aparat negeri di Hutumuri. “Semuanya datang campur.”

Selain penyakit umum, kini mulai marak hipertensi, asam urat, bahkan stunting pada anak-anak. Salah satu penyebabnya adalah pola makan instan dan kurang gizi. “Anak-anak sekarang kebanyakan makan mie instan terus,” kata Nona Papilaya.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button