Menjaga Negeri dalam Iklim yang Tak Lagi Bisa Ditebak
Namun masyarakat tidak tinggal diam. Pemerintah desa bekerja sama dengan puskesmas mengadakan program pemberian makanan bergizi, dari telur rebus hingga sup sayur lokal. Dana desa digunakan untuk membeli bahan makanan dari pasar dan kebun sekitar.
Obat Tradisional dan Pengetahuan yang Tetap Hidup
Meski layanan medis tersedia, sebagian warga masih memegang pengobatan tradisional. Nona papilaya, misalnya, cukup percaya pada minyak kayu putih, dan rebusan jahe yang ditanam sendiri.
Di Tulehu, beberapa tanaman seperti kopasanda, yang juga disebut maulanit dalam bahasa adat, masih digunakan dalam upacara dan pengobatan. Tanaman ini bukan sekadar obat, melainkan bagian dari nyanyian adat kapata, warisan lisan yang mengikat masyarakat Lease dalam satu memori bersama.
Namun, tanaman obat pun mulai sulit ditemukan. “Jahe sekarang cepat kering. Panas terlalu lama, hujan tidak menentu,” ujar Faisal Lestaluhu, warga Tulehu yang punya kebun kecil di dekat rumah.
Kondisi iklim yang tak menentu membuat warga kesulitan menjaga pasokan tanaman berkhasiat. Tanah yang dulu subur kini mudah retak saat panas, atau tergenang saat hujan tak berhenti. Laporan BRIN pada 2024 mencatat, perubahan suhu dan kelembapan di Maluku menyebabkan perlambatan pertumbuhan sejumlah tanaman berkhasiat.
Ketika sumber daya alam makin terbatas, laut yang sering bergelombang, dan pohon-pohon warisan yang makin diperebutkan, ketegangan pun perlahan muncul. Di Hutumuri, ketegangan biasanya muncul saat musim buah tiba.

“Konflik dalam kampung ini sering soal pohon, terutama yang ditanam orang tua dulu,” ujar Yohanis Waas, selaku saniri (hakim adat) di Hutumuri. “Setelah orang tua meninggal, anak-anak berselisih soal siapa yang punya hak atas buah atau tanah di sekitarnya. Batas antara adik dan kakak kadang tidak jelas.” Tapi, penyelesaian dilakukan lewat musyawarah negeri (mekanisme adat), dengan kepala soa dan saniri turun tangan langsung.
Di Tulehu, tekanan datang dari arah lain. Laut yang sering bergelombang membuat nelayan tak bisa melaut, pendapatan turun, dan sebagian warga terpaksa ke kota untuk mencari kerja.
Di tengah kondisi ini, konflik sosial sesekali muncul, terutama di kalangan anak muda. “Pernah ada bentrok antara pemuda Tulehu dan Tial, padahal mereka masih keluarga,” ujar Sudarmadji.
Sebagai hakim adat, ia kerap turun tangan menyelesaikan sengketa. “Kalau perang besar saja bisa damai, apalagi cuma cekcok anak muda.”
Struktur adat tetap menjadi fondasi yang menjaga keseimbangan sosial. Dalam banyak kasus tanah atau perselisihan keluarga, proses mediasi adat didahulukan sebelum dibawa ke ranah hukum formal.
Hutan, Kesehatan, dan Ingatan yang Mulai Menipis
Dulu, di belakang rumah Sudarmadji, ada hutan lebat. Kini, sebagian besar telah menjadi permukiman. Pohon sukun, mangga, dan asam yang dulu jadi pelindung kini menghilang satu per satu.
“Orang ambil kayu, tapi tidak tanam lagi,” keluhnya. “Pohon durian, kelapa, kalau ditebang terus dan tidak diganti, lama-lama habis.”
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



