Menjaga Negeri dalam Iklim yang Tak Lagi Bisa Ditebak
Hutan Gunung Salahutu masih jadi tumpuan terakhir. Di sana, masyarakat masih menanam cengkeh, pala, dan palawija. Hewan seperti rusa, kucing hutan, dan burung masih hidup, meski jumlahnya terus menyusut karena pembukaan lahan dan perburuan.
Kehilangan tutupan hutan tidak hanya berdampak pada ekosistem, tapi juga pada memori kolektif masyarakat. Setiap pohon yang hilang, bagi sebagian orang tua di Tulehu dan Hutumuri, berarti hilangnya satu fragmen masa lalu, jejak tempat bermain, tempat berkebun, atau tempat upacara adat.
Di tengah tantangan itu, ada yang tetap hidup: kebun. Warga Tulehu masih bakabong (berkebun) meski lahannya makin sempit. Mereka menanam kasbi, kaladi, sayur, dan pisang dengan cara lama: bersihkan lahan, tanam, dan rawat. Membakar lahan sudah ditinggalkan. “Tidak ada aturan tertulis, tapi lahan pribadi dijaga,” jelas Sudarmadji.
Di sini, kebun lebih dari sekadar tempat bercocok tanam; ia adalah ruang warisan, tempat pengetahuan diturunkan antar generasi, cara membaca tanah, mengenal musim, hingga memilih benih.
Di Tulehu, air bersih masih melimpah, meski sumur kadang keruh saat musim hujan. Toilet sudah tersedia di hampir semua rumah, hasil dari kombinasi bantuan pemerintah dan kesadaran warga. Tradisi lama seperti mandi di laut atau buang air di pantai perlahan hilang, digantikan oleh sistem sanitasi yang lebih baik.
Namun tantangan tetap ada. Permukiman yang padat, perubahan iklim, dan pola hidup modern membawa dampak langsung ke tubuh masyarakat. “Laki-laki sekarang banyak yang sakit,” kata Sudarmadji. “Struk, hipertensi, diabetes. Dulu jarang.”

Meski pengobatan modern kini jadi pilihan utama, jejak pengetahuan lama belum sepenuhnya hilang. Ketika demam menyerang atau tekanan darah naik, warga lebih dulu datang ke Puskesmas atau ke RSUD dr. Ishak Umarella yang ada di Tulehu.
“Jarang yang ke tukang urut atau pengobat tradisional sekarang, paling kalau mau diurut saja,” ujar Sudarmadji.
Namun di dapur-dapur rumah, ramuan tetap hidup. Daun pepaya, sereh, dan matel sering direbus untuk menurunkan tekanan darah. Jahe merah dan jahe putih ditanam di halaman, bukan hanya untuk bumbu, tapi juga untuk menghangatkan tubuh yang lelah oleh cuaca yang tak menentu.
Pergeseran pola makan, tekanan ekonomi, serta berkurangnya aktivitas fisik menjadi penyebab baru penyakit-penyakit ‘zaman sekarang’. Di sisi lain, sistem kesehatan adat yang dulu kuat mulai terpinggirkan, digantikan oleh ketergantungan pada obat pabrikan.
Meski demikian, Tulehu dan Hutumuri tetap berdiri sebagai contoh ketahanan, desa yang bertahan di tengah ketidakpastian cuaca, dengan akar yang masih tertanam kuat pada adat, kebun, dan rasa saling menjaga.
Menjelang senja di Hutumuri, kabut turun dari bukit, menyelimuti kebun-kebun kecil yang baru dibersihkan. Di Tulehu, anak-anak berlari mengejar bola di lapangan berpasir yang menghadap laut. Angin membawa bau asin ke halaman rumah.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



