AmboinaMaluku Tengah

Menjaga Negeri dalam Iklim yang Tak Lagi Bisa Ditebak

Di Tulehu, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan denyut kehidupan. Lapangan pasir yang menghadap laut itu bukan hanya tempat bermain, tapi juga ruang tumbuh bagi mimpi-mimpi anak negeri. 

Dari sana, lahir deretan nama pesepak bola nasional Ramdani Lestaluhu, Alfin Tuasalamony, Rizky Pellu, dan Abduh Lestaluhu, hingga Hendra Bayauw, yang mengukir jejak dari kampung kecil ke panggung besar.

Dalam cuaca yang tak menentu, bola tetap menggelinding. Bagi anak-anak Tulehu, sepak bola menjadi cara untuk tetap waras di tengah keterbatasan, dan cara paling sederhana untuk menjaga kebersamaan. 

Di balik riuh sorak di sore hari, tersembunyi semangat kolektif untuk bertahan, bangkit, dan terus percaya bahwa masa depan bisa dikejar, bahkan dari tanah yang hujannya tak lagi bisa diprediksi.

“Sekarang musim tidak bisa ditebak,” kata Faisal Lestaluhu, seorang warga Tulehu. “Tapi yang penting, kita masih bisa jaga negeri.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi ia menyimpan kedalaman makna. Dalam “jaga negeri”, terkandung usaha untuk tidak menyerah pada ketidakpastian. Itu bukan sekadar bertahan hidup, melainkan menjaga warisan, menghormati alam, dan menjaga sesama.

sepakbola scaled
Anak laki-laki dan perempuan berpakaian seragam sepak bola sedang berebut bola di lapangan sepak bola Matawaru, Negeri Tulehu, Maluku Tengah, yang dikenal sebagai Kampung Sepakbola.(Foto: Hilary Syaranamual untuk potretmaluku.id)

Di balik hiruk-pikuk perubahan iklim dan dinamika sosial, ada sebuah pelajaran yang dalam: negeri ini bukan hanya sekadar tanah dan pohon, tapi juga warisan rasa yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Saat hutan mulai menyusut dan musim kian tak menentu, kemampuan masyarakat untuk bertahan bukan hanya soal bertani atau menangkap ikan. Ia adalah keteguhan hati untuk menerima, beradaptasi, dan menjaga ikatan antara manusia, alam, dan sejarah yang tak bisa dipisahkan.

Tulehu dan Hutumuri mengingatkan kita bahwa sebuah komunitas adalah lebih dari sekadar kumpulan individu; ia adalah perwujudan harapan dan tanggung jawab kolektif.

Di negeri-negeri adat ini, kita melihat bagaimana kekuatan tak selalu hadir dalam bentuk besar. Kadang, ia hidup dalam kebun kecil yang tak pernah ditinggalkan, dalam upacara adat yang terus dilantunkan, atau dalam tangan yang masih menanam, meski cuaca kian tak menentu.

Di sanalah letak kekuatan sebenarnya, bukan pada apa yang telah hilang, tapi pada bagaimana kita terus merawat yang masih tersisa dan menanam benih-benih masa depan, meski langit tak lagi memberi janji yang pasti.(Zairin Salampessy)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4

Berita Serupa

Back to top button