Amboina

Adaptasi Petani Cengkih dan Pala di Lilibooi Terhadap Ancaman Perubahan Iklim

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Ir. Hero Lekatompessy saat diwawancarai di ruang kerjanya menyampaikan, total 40.000 hektar cengkih yang tersebar di beberapa pulau di Maluku tahun ini mengalami peningkatan produksi.

Tahun 2023 silam yang sedikit mengalami peningkatan produksi. Berdasarkan data Dinas Pertanian, produksi cengkih di Tahun 2023 alami peningkatan sebesar 22.000 ton per tahun, dibandingkan tahun 2021 nilai produksi mencapai 21.246,82 ton dan 2022 yang nilai produksinnya sebanyak 21.976 ton.

“Jadi ada peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk Tahun 2024 ini, kita belum tahu, karena data akan dirilis pada Maret 2025,” ungkap Hero, Selasa (23/7/2024).

Sementara untuk pala, di Maluku sudah memiliki 36.000 lebih hektare, dengan produksi hampir 6.000 ton per tahun. Itu juga mengalami peningkatan produksi rata-rata 2%  per tahun. “Khusus cengkih, itu ada masa produksi. Kalau tahun ini tinggi, tahun berikutnya menurun. Jadi dikenal sebagai siklus dua tahunan,” katanya.

Rentan Perubahan Iklim

Soal penurunan produksi, Hero mengaku belum mendapatkan datanya.  Tapi kalau itu yang disampaikan para petani, bisa jadi ada kaitannya dengan perubahan iklim. Karena memang iklim itu sangat berpengaruh terhadap fisiologi tanaman, terutama itu cuaca. Tinggi dan rendah curah hujan itu berpengaruh pada produktivitas cengkih dan pala. Artinya, terlalu banyak hujan itu kurang baik. Tapi kalau kurang hujan lebih parah lagi.

“Kalau cengkih itu butuh kondisi cuacanya optimum. Sebenarnya, banyak faktor yang bisa mempengaruhi produktivitas tanaman cengkih dan pala. bukan saja faktor iklim, tapi juga pola pemeliharaannya,” tandasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), beberapa tahun terakhir menunjukkan tren curah hujan di Pulau Ambon meningkat, yang mana dimulai dari awal Mei hingga puncaknya pada Juni dan Juli. Pada Mei 2020, tercatat curah hujan mencapai 123 mili meter (mm), sedangkan bulan Juni curah hujannya 110 mm, dan bulan Juli sebanyak 104 mm.

Di Tahun 2021 terjadi peningkatan, dimana pada Bulan Mei curah hujan tercatat mencapai 814,5 mm, sedangan Juni sebanyak 514,3 mm, dan di bulan Juli itu 1309,7 mm. Untuk Tahun 2022, curah hujan di bulan Mei itu mencapai 143,5 mm, Juni mencapai 351,1 mm, dan di Juli mencapai 1220,9 mm.

Kepala Stasiun Meteorologi dan Klimatologi Kelas II Pattimura-Ambon, Kamari saat ditemui di ruang kerjanya menjelaskan, di Tahun 2023 pun tidak ada penurunan curah hujan yang signifikan.

Berdasarkan siklusnya, rata-rata puncak curah hujan di Maluku itu terjadi pada bulan Juni hingga Juli. Maluku dan beberapa daerah lain di wilayah timur seperti Maluku Utara, dan Papua, itu berbeda dengan wilayah lain di Indonesia Bagian Barat. Maluku, Maluku Utara dan Papua itu sangat dipengaruhi oleh angin timur yang membawa uap air yang sangat basah.

Sumari mengakui adanya penggeseran musim di Maluku. Ia menyarankan, masyarakat tetap menggunakan pengetahuan lokal untuk memprediksi cuaca.

“Biasanya bergeser hanya dalam hitungan minggu saja. Seperti tahun lalu, Juli masih lebat. Tapi sekarang Juli sudah mulai berkurang. Berarti puncaknya hanya bergeser di minggu awal Juli,” jelasnya.

Pengaruh perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman cengkih dan pala juga ditemukan beberapa peneliti dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, yakni Herman Rehatta, J. Audrey Leatemia, dan Max . J. Pattinama saat melakukan riset pada Tahun 2017 dengan judul “Dampak Perubahan Iklim terhadap Produktivitas Pala dan Cengkih di Provinsi Maluku” yang didanai oleh USAID.

Herman menuturkan, sektor pertanian termasuk cengkih dan pala sangat rentan terdampak, karena perubahan iklim berpengaruh terhadap pola tanam, waktu tanam, produksi, dan kualitas hasil. Menurutnya, variabel yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman adalah curah hujan, serta suhu, dan juga kelembapan udara.

“Perubahan tersebut dapat menurunkan produksi pertanian antara 5-20 persen,” jelas Herman saat ditemui di ruang krjanya di Fakultas Pertanian Unpatti, Senin (22/7/2024).


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button