Adaptasi Petani Cengkih dan Pala di Lilibooi Terhadap Ancaman Perubahan Iklim
Tapi usaha sempat gagal saat dia berangkat meninggalkan negeri selama dua bulan ke Surabaya. Pohon pepaya yang ia tanam tidak tumbuh dengan baik.
“Gara-gara curah hujan yang tinggi, akhirnya tanaman pepaya itu gagal,” jelasnya sambil menepuk dahi. “Tapi sekarang saya sudah kembali menanam pepayah, dan puji tuhan, hasil yang didapat cukup baik,” tambah Wempi sambil melepaskan senyum.
Dampak perubahan iklim juga sempat membuat kelabakan Demianus Tulaseket (64), salah seorang petani pala di Lilibooi. Saat orang mulai meninggalkan cengkih dan pala, dia tetap memilih merawat kebun palanya.
Pria yang akrab disapa Om Kumis itu memiliki kurang lebih 60 pohon pala pada luas lahan satu hektar. Dari tahun ke tahun, jumlah pohon palanya berkurang karena terserang hama. “Berkurang, tapi tidak banyak. Cuma terasa beberapa tahun kemarin hasil produksinya tidak sebanyak dulu,” ujarnya.
Dia memilih untuk terus merawat dan melakukan peremajaan pohon pala meski dengan berbagai resiko yang dihadapi, karena tidak ada lahan baru untuk membuka kebun. Dusun perkebunan pala milik Om Kumis merupakan warisan orang tuanya.
“Lahan ini kan warisan orang tua. Jadi saya hanya bisa lakukan peremajaan dan merawat tanaman pala yang ada. Dan sekarang sudah mulai bagus hasilnya,” terngnya.
Sejauh pengamatan Om Kumis, turunnya produktivitas pala karena terkena hama. Dia terus mencari solusi agar bisa mengatasinya.
Sebab, jika curah hujan yang berkepanjangan akan muncul hama, dan otomatis mengganggu produktivitas tanaman pala. Dari informasi yang dia dapat, hama penggerek batang pala (Batocera sp), juga penyakit busuk buah kering (Stigmina myristicae).
“Bulan Mei sampai Juli ini kan musim hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Untuk Pala itu, yang diserang hama itu pada batang pohon dan itu merusak dari bawah. Beda dengan cengkih, itu tidak apa-apa. Yang paling cepat terlihat dampaknya itu pohon pala,karena langsung mati,” ujar Om Kumis.

Dia mengaku sempat kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa saat pohon palanya terserang hama. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.
Ada yang menyarankan supaya menyiram batang pohon pala menggunakan campuran isi baterai dan sabun cuci, tapi itu tidak mempan. Om Kumis kemudian menggunakan obat antijamur dan antilarva yang diberikan Dinas Pertanian Maluku.
Setelah melalui berbagai upaya, Om Kumis akhirnya mengerti bagaimana upaya memperlakukan pohon pala, mulai dari penanganan penyakitnya, hingga antisipasi faktor iklim yang berpengaruh pada kesuburan serta produktivitas tanaman pala. Setelah itu, Om Kumis mulai disiplin melakukan peremajaan.
“Pokoknya, sekarang saya rutin melakukan penggantian tanaman tua yang sudah tidak produktif dengan tanaman baru. Makanya, sekarang hasilnya mulai baik,” tutur dia.
Turunnya produktivitas cengkih dan pala juga diakui oleh Anwar, salah satu pengepul di kawasan Ruko Batu Merah, Kota Ambon. Beberapa tahun terakhir hasil bumi, khususnya komoditas cengkih dan pala yang dibeli dar para petani menurun. Biasanya dia berhasil membeli sampai satu ton. Tapi sekarang hanya berkisar 300 kg.
“Sudah tiga tahun belakangan ini berkurang. Saya tidak tahu penyebabnya apa. Atau bisa jadi karena faktor iklim,” ujar pemilik usaha di Toko Tekun Raya itu.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



