Adaptasi Petani Cengkih dan Pala di Lilibooi Terhadap Ancaman Perubahan Iklim
Jika ada proyek pengadaan bibit oleh pemerintah dalam jumlah yang besar, mereka yang akan dihubungi. “Tapi, sudah dua tahun belakangan belum ada proyek pengadaan. Jadi kalau ada masyarakat yang datang beli eceran, kita jual dengan harga Rp6.000 per satuan. Rata-rata yang datang beli itu dari kampung lain dengan jumlah 50 sampai 100 pohon,”ujarnya.
Tinggalkan Cengkih dan Pala
Tidak sedikit petani cengkih di Lilibooi yang juga merasakan kondisi serupa. Bahkan ada yang tidak menikmati hasil panen, lantaran cengkih milik mereka tidak berbuah. Tentu kondisi itu mengkhawatirkan, sebab Lilibooi merupakan salah satu negeri yang dikenal dengan pertaniannya, khususnya tanaman cengkih dan pala.
Dua komoditas itu menjadi tulang punggung ekonomi negeri setempat. Khusus komoditas pala, Negeri Lilibooi tercatat memiliki lahan aktual dengan luas areal sebesar 55 hektare, yang setiap tahunnya menghasilkan produksi 20 ton.
Sayangnya, sejumlah petani mulai meninggalkan pohon cengkih dan pala akibat dari merosotnya hasil panen dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Terutama bagi para pemuda, mereka lebih memilih merantau mencari pekerjaan ke daerah lain ketimbang menjadi petani cengkih dan pala.
“Paling banyak anak-anak muda disini pergi bekerja pada tambang nikel di Maluku Utara,” kata Niko, salah satu tokoh adat di Negeri Lilibooi.
Beberapa petani juga memilih melakukan aktivitas lain demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Salah satunya adalah Wempi Yacob (64).

Dia yang dulunya tekun sebagai seorang petani cengkih, kini telah beralih menanam buah-buahan karena merasa cengkih tidak lagi menguntungkan akibat produktivitasnya menurun. Dia bahkan kesulitan menentukan jadwal panen cengkih maupun pala, padahal itu bergantung pada cuaca.
“Kan kalau curah hujan itu tinggi, buah pala itu gugur karena busuk. Kalau kata orang disini, itu buah masak muda. Kalau cuaca terlalu panas juga, cengkih akan rusak,” kata Wempi.
Cengkih dan pala merupakan komoditas primadona bagi masyarakat Lilibooi. Orang tua bisa sekolahkan anak hingga meraih gelar sarjana dari hasil panen dua panen komoditas tersebut. Tapi sekarang sudah tidak bisa karena hasil panen tidak seberapa.
Sebelumnya Wempi sempat menggantungkan hidupnya dari pembibitan cengkih saat pemerintah mencanangkan program Penanaman 100 Juta Pohon di Indonesia dalam lima tahun, sebagai upaya meningkatkan ketahanan lingkungan dan mitigasi bencana alam.
Melalui program tersebut, pemerintah bekerja sama dengan masyarakat, pemerintah daerah, hingga swasta, untuk menanam pohon di hutan, lahan kritis, dan pinggiran sungai. Beragam pohon yang ditanam, mulai dari pohon buah-buahan, pohon kayu, hingga pohon pelindung.
Sama seperti Agus, Wempi juga bekerja sama dengan Dinas Pertanian Provinsi Maluku. Bahkan, dia adalah orang pertama di Lilibooi yang menggeluti usaha pembibitan cengkih.
Ilmu pembibitan yang didapat kemudian ditularkan ke warga lainnya. Dampak perekonomian dari program itu sangat dirasakan oleh masyarakat sejak Tahun 2015 hingga 2018. Usaha tersebut kemudian mengalami penurunan akbat pandemi COVID-19.
“Waktu itu dari Dinas Pertanian beli bibit seharga Rp.6.000. Masuk Tahun 2019, pembelian mulai menurun karena banyak warga yang juga melakukan pembibitan. Dan itu terus menurun pasca pandemi COVID-19, sampai tahun 2022 kemarin,” katanya.
Sambil merawat dan melakukan peremajaan perkebunan cengkih dan pala, Wempi juga mencoba merintis usaha perkebunan pepaya, karena menurutnya tidak memerlukan waktu untuk produksi.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



