Kisah Om Yos, Penarik Perahu yang Menyiapkan Masa Depan
Oleh: Yeni Krisna*
Mantan atlet dayung Maluku ini tahu perahunya akan kehilangan penumpang ketika Jembatan Merah Putih berdiri. Sebelum jembatan itu rampung, ia sudah menyiapkan sumber penghasilan lain.
Di atas, kendaraan tak putus-putus melintas di Jembatan Merah Putih. Deru sepeda motor dan klakson angkutan kota bersahutan, menghubungkan Poka dan Galala dalam hitungan menit. Di bawahnya, suasana jauh lebih lengang. Sesekali terdengar percikan air ketika dayung membelah permukaan Teluk Ambon.
Di antara dua dunia itu, ada sebuah perahu kecil yang masih bergerak. Tidak lagi seramai dulu, tetapi belum sepenuhnya kehilangan penumpang.
Pada siang menjelang sore itu, saya datang ke Poka dengan satu pertanyaan sederhana: apakah penyeberangan perahu di bawah jembatan ini masih beroperasi? Jika masih, siapa yang mau menggunakannya?
Pertanyaan itu dijawab seorang lelaki berusia 56 tahun yang duduk di buritan perahu. Kulitnya legam terbakar matahari. Tawanya datang lebih cepat daripada jawabannya. Perahunya masih beroperasi, katanya, meski keadaannya tidak lagi seperti dulu.

Namanya Joseph. Orang-orang biasa memanggilnya Om Yos. Lebih dari tiga dekade lalu, lelaki ini pernah mengayuh perahu untuk mewakili Maluku dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jakarta.
Kini, di bawah jembatan yang menjadi simbol kemajuan kota ambon itu, ia kembali mendayung. Bukan lagi untuk mengejar medali, melainkan menemani segelintir penumpang yang masih memilih menyeberang dengan perahu.
Om Yos mulai menjadi penarik perahu jauh sebelum mengenal apa itu PON. Ketika masih duduk di kelas lima sekolah dasar, usianya sekitar 11 tahun, ia sudah mampu mengemudikan perahu besar yang mengangkut hingga 20 penumpang seorang diri.
Jika angin bertiup kencang, ia tahu apa yang harus dilakukan. Layar diturunkan setengah agar perahu tetap melaju dengan stabil. Pada sekitar 1982, setiap penumpang hanya membayar Rp 100 untuk sekali menyeberang.
Uang hasil mendayung itu digunakannya untuk membiayai sekolah dan membeli jajanan. Ia bersekolah di SD Xaverius. Sejak kecil, Om Yos punya kebiasaan mentraktir teman-temannya. Jajanan arum manis menjadi salah satu kesukaannya. Ia masih mengingat betapa senangnya bisa membeli makanan itu dengan uang hasil keringat sendiri.
Penulis :
Editor :



