Kisah Om Yos, Penarik Perahu yang Menyiapkan Masa Depan
Perahu yang Salah
Di Semarang, saat mengikuti Pra-PON 1988, Om Yos dan atlet dayung Maluku menghadapi kejutan yang tidak mereka perkirakan.
Selama berlatih di Ambon, mereka terbiasa menggunakan perahu tradisional. Namun, perahu yang dipakai dalam pertandingan Pra-PON ternyata berbeda. Ada nomor yang menggunakan kano dan rowing. Menguasai jenis perahu tersebut membutuhkan waktu latihan tersendiri, bahkan bisa sampai tiga bulan.
Om Yos dan rekan-rekannya tidak menyerah. Mereka mencoba menggunakan perahu yang disediakan. Namun, ketika pertama kali turun ke laut, perahu itu justru terbalik. Mereka belum terbiasa dengan karakter perahu tersebut.
Situasi itu menjadi tekanan tersendiri. Mereka datang jauh-jauh dari Maluku dengan satu tujuan: menang. Namun, persiapan yang dijalani selama berbulan-bulan ternyata belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pertandingan.
Akhirnya, mereka bertanding menggunakan perahu tradisional yang selama ini dipakai dalam latihan. Dengan perahu itu, tim Maluku berhasil melaju hingga babak semifinal. Hasil tersebut sekaligus mengantarkan mereka mendapatkan tiket ke PON XII di Jakarta pada 1989.

Panitia pertandingan sempat heran melihat kemampuan atlet Maluku. Dengan perahu tradisional, mereka mampu bersaing hingga semifinal.
Bagi Om Yos, hasil itu menyisakan kekecewaan. Ia yakin, jika sejak awal mereka berlatih menggunakan perahu dengan standar yang dipertandingkan, peluang untuk menjadi juara pertama akan lebih besar. Ia menilai ada persoalan komunikasi antara pihak yang mengurus persiapan atlet dan KONI Provinsi mengenai standar perahu yang akan digunakan.
PON XII berlangsung pada 18-28 Oktober 1989. Menurut Om Yos, pertandingan cabang dayung digelar di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Kali ini, mereka harus menerima kekalahan.
“Dong hanya lia katong tenaga saja, pas katong jatuh, seng lai,” katanya.
Jakarta, kota yang selama ini hanya dikenalnya dari cerita orang, ternyata tidak terlalu istimewa baginya. Pengalaman yang justru paling membanggakan adalah ketika berkunjung ke Candi Borobudur saat mengikuti Pra-PON.
Penulis :
Editor :



