
Pagi di sebuah rumah sederhana di Depok, aroma fermentasi tepung perlahan merayap keluar dari dapur. Bukan wangi roti manis yang biasa menyeruak dari toko roti pinggir jalan, melainkan campuran asam, gurih, dan sedikit manis yang khas. Itulah aroma sourdough, roti beragi alami yang membutuhkan kesabaran dalam pembuatannya.
Di baliknya ada sosok perempuan bernama Friska Kalia, otak, tangan, dan hati di balik brand roti rumahan bernama Kunyah Gembira. Kalau kamu belum pernah dengar namanya, mungkin kamu juga belum pernah tahu betapa sebuah potongan roti bisa jadi medium untuk menyebarkan kebahagiaan.
Usaha rumahan Kunyah Gembira ini lahir pada masa pandemi, dari sebuah dapur kecil yang awalnya hanya menjadi ruang bertahan.
“Saya mulai memasak demi berhemat. Lama-lama memasak jadi terapi yang menyelamatkan saya,” ujarnya. Dari sekadar menyajikan untuk diri sendiri, masakan Friska menjalar ke lingkaran teman dekat, lalu ke orang-orang yang sebelumnya tak ia kenal.
Atau bagaimana sebuah starter sourdough bisa diberi nama “Laut” dan dirawat seperti anak sendiri. Tapi untuk Friska, semua itu nyata, dan semua dimulai dari masa yang justru bikin banyak orang merasa terpuruk: pandemi.
Pandemi, Dapur, dan Terapi yang Tak Disangka
Sebelum Kunyah Gembira ada, Friska adalah pekerja kantoran di Jakarta. Kehidupannya ya standar orang Ibu Kota: bangun pagi, naik transportasi umum, kerja seharian, pulang malam.
Tapi saat pandemi 2020 datang, ritme itu buyar. Semua orang dipaksa diam di rumah, dan mendadak kita semua jadi murid di sekolah besar bernama “Adaptasi”.
Buat Friska, adaptasi itu berarti mulai masak sendiri. Awalnya bukan karena niat tinggi-tinggi pengen jadi chef, tapi murni karena alasan finansial. “Biar hemat,” katanya sambil tertawa. Tapi di situlah kejutan terjadi: masak dan bikin kue ternyata jadi semacam terapi buat dia.
Bayangin aja, di tengah hari-hari penuh berita buruk, Friska menemukan rasa tenang saat menimbang tepung, mencampur adonan, atau menunggu oven berbunyi. Aktivitas itu pelan-pelan jadi jalan keluar dari stres.
Awalnya cuma masak buat diri sendiri. Lama-lama, teman dekat mulai mencicipi. Terus teman dari teman. Hingga orang yang bahkan nggak pernah dia kenal sebelumnya ikut pesan. Di sanalah ia sadar: “Memasak dan menyajikan makanan enak adalah cara saya menunjukkan rasa kasih sayang dan kepedulian.”
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi





