Di sebuah sudut Belanda pada akhir 1960-an, tepatnya di Kamp Schattenberg, seorang anak perempuan kecil tumbuh di tengah komunitas Maluku yang merindukan tanah airnya. Namanya Lise Yan Sui de Fretes.
Kamp itu dulunya adalah tempat transit menuju Auschwitz di masa Perang Dunia II, namun setelah perang, ia menjadi tempat tinggal sementara bagi keluarga-keluarga Maluku eks-tentara KNIL dan keluarganya.
Di rumah Lise, Bahasa Malayu Ambong adalah bahasa cinta dan kehangatan. Sang ayah, Benjamin de Fretes, yang berasal dari Negeri Ema di Ambon, menuturkannya dengan suara yang penuh kasih. Ibunya, Souw Gue Nio, seorang perempuan Jawa keturunan Tionghoa, menambahkan ragam bahasa dan budaya lain ke dalam kehidupan mereka. Rumah kayu sederhana mereka menjadi oasis kecil, tempat cerita-cerita masa lalu bercampur dengan harapan untuk masa depan.
Namun, di luar rumah, semuanya berbeda. Lise dan teman-temannya harus berbicara bahasa Belanda di sekolah. Bahasa Malayu Ambong jarang sekali ditulis, bahkan tidak ada panduan baku untuk menuliskannya. Perlahan, bahasa itu mulai memudar di ruang publik. Di generasi muda, sebagian bahkan mulai merasa malu menggunakannya.
Lise kecil mulai bertanya-tanya, “Mengapa bahasa yang begitu indah ini tidak punya rumah di tulisan?”
Dari Pertemuan Budaya ke Kesadaran Bahasa
Seiring waktu, Lise tumbuh di tengah percampuran identitas: Maluku di rumah, Belanda di luar rumah. Ia belajar bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga jembatan emosi dan identitas. Ia merasakan jarak dengan orang tuanya, bukan karena kurang kasih sayang, tetapi karena ada batasan bahasa yang membuat banyak cerita tak pernah tersampaikan.
Keinginan untuk memahami bahasa leluhurnya membawanya ke Universitas Leiden, jurusan Bahasa dan Budaya Asia Tenggara dan Oseania. Di sana, ia mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan mulai memahami struktur Bahasa Malayu Ambong yang pernah ia dengar di masa kecil.
Pelan-pelan, Lise menyadari: bahasa ibunya harus dihidupkan, bukan hanya sebagai warisan lisan, tetapi juga sebagai bahasa tulis yang bisa diajarkan dan diwariskan.
Ambon, Perdamaian, dan Bahasa
Perjalanan hidup membawanya kembali ke tanah leluhur. Di awal 2000-an, Lise terlibat sebagai pekerja perdamaian bersama teman-temannya di Ambon pasca konflik sosial yang memporakporandakan Maluku.
Ia bekerja bersama tokoh-tokoh lintas agama dan aktivis lokal, termasuk jurnalis senior Embong Salampessy. Di lapangan, ia melihat satu hal penting: bahasa adalah kunci membangun kepercayaan.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



