Kisah Om Yos, Penarik Perahu yang Menyiapkan Masa Depan
Saat itu usianya 19 tahun. Selama tujuh bulan, ia menjalani pembinaan, termasuk tiga bulan masa karantina. Om Yos bersama atlet lainnya ditempatkan di asrama Angkatan Laut di Halong. Mereka digembleng oleh komandan dan personel Angkatan Laut.
Setiap pagi, pukul enam, mereka harus sudah bangun untuk berlari. Sore harinya, latihan lari kembali dilakukan. Selama dua pekan pertama, latihan difokuskan pada penguatan fisik di darat. Setelah itu, mereka mulai berlatih di laut. Asupan makanan pun diperhatikan untuk mendukung kebutuhan fisik para atlet.
Pemerintah Provinsi Maluku dan sejumlah perusahaan di Ambon turut menjadi sponsor selama masa persiapan. Mereka membantu memenuhi kebutuhan atlet, mulai dari makanan, pakaian, sepatu, hingga perlengkapan lainnya.
Dari masa karantina itu, ada satu pengalaman yang masih melekat dalam ingatan Om Yos. Suatu hari, wakil komandan Angkatan Laut berpangkat letnan kolonel memanggilnya.
“Yos, tolong lia Pa pung rumah dolo!

Rumah sang komandan ternyata perlu dibersihkan. Om Yos segera mengerjakannya sampai bersih dan rapi. Ia melakukannya dengan tekun. Beberapa kali sang komandan mendapati rumahnya kembali bersih dan nyaman setelah dibersihkan Yos muda.
Ketekunan itu rupanya membuat sang komandan terkesan. Karena tidak memiliki anak, ia bahkan menawarkan Om Yos untuk menjadi anak angkatnya. Namun, tawaran itu tidak diterima.
Om Yos merasa minder. Ia menganggap warna kulitnya yang cokelat tidak cocok berada di tengah keluarga sang komandan yang berkulit putih. Ketika suatu kali diajak makan di restoran bersama sang komandan dan istrinya, perasaan rendah diri itu justru semakin kuat.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, ia mengakui pernah sedikit menyesali keputusan tersebut.
“Sadiki manyasal,” katanya.
Penulis :
Editor :



