Sosok

Kisah Om Yos, Penarik Perahu yang Menyiapkan Masa Depan

Rumah tempat Om Yos tinggal sekarang berdiri di atas tanah warisan. Almarhum ayahnya dahulu bekerja sebagai penjaga Gereja Santo Joseph di Poka.

Sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian dan kejujuran sang ayah, pihak gereja pernah berencana mengadakan pesta syukur. Namun, ayahnya menolak. Ia hanya meminta sebidang tanah untuk membangun rumah bagi keluarganya.

Ada satu pesan yang terus diingat Om Yos dari ayahnya: tanah itu jangan pernah dijual. Tanah tersebut harus menjadi warisan bagi anak dan cucu.

Pesan itu pula yang membuat Om Yos memandang rumah dan tanah keluarganya sebagai sesuatu yang harus dijaga, bukan sekadar aset yang bisa diuangkan.

Sepanjang percakapan, Om Yos beberapa kali tertawa. Bahkan ketika menceritakan hal-hal yang mungkin bagi orang lain terasa pahit: kesempatan menjadi anak angkat seorang komandan yang pernah ia tolak, piala dan medali yang telah dijual, hingga bantuan pemerintah yang gagal diperolehnya.

Ia tidak banyak mengeluh. Berulang kali ia mengembalikan semua pengalaman itu pada satu keyakinan: setiap hal memiliki rencana Tuhan.

jmp 3
Foto: Yeni Kristin untuk potretmaluku.id

Kini, ia mengaku mendayung lebih untuk bersenang-senang dan bernostalgia. Ia dan istrinya sudah memiliki bekal untuk menjalani masa tua. Rumah kos memberikan penghasilan tetap, sementara kedua anak mereka sudah menyelesaikan pendidikan dan membangun keluarga masing-masing.

Kepada anak-anak dan menantunya, Om Yos hanya menitipkan pesan sederhana: kelola rumah kos dengan baik dan jangan bertengkar.

Menurutnya, pertengkaran tidak membawa manfaat dan hanya akan membuat keluarga menjadi bahan tertawaan orang lain.

Di Teluk Ambon, jembatan merah putih akan terus menjadi jalan bagi ribuan orang yang setiap hari melintas di atasnya. Di bawah jembatan itu, om yos masih sesekali mengayuh perahunya. Ia tidak lagi mengejar ramainya penumpang, apalagi mengejar penghasilan seperti dulu.

Bagi Om Yos, ada masa ketika perahu menjadi satu-satunya jalan untuk mencari nafkah. Kini, ketika zaman menawarkan jalan yang lebih cepat, ia sudah menemukan jalannya sendiri untuk bertahan.

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari seorang mantan atlet dayung: ia tahu kapan harus terus mengayuh, dan kapan harus mencari arah lain.(*)

* Yeni Krisna, adalah mahasiswa magang dari Program Studi Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon.

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DIĀ GOOGLE NEWS


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Berita Serupa

Back to top button