Sosok

Kisah Om Yos, Penarik Perahu yang Menyiapkan Masa Depan

Kini, setelah JMP berdiri, penghasilan dari perahu tidak lagi menentu. Masih ada sebagian kecil masyarakat Galala dan Poka serta mahasiswa yang menggunakan jasa penyeberangan tersebut. 

Namun, pada hari-hari biasa, Om Yos terkadang hanya memperoleh Rp 20-30 ribu. Dengan tarif Rp 5.000 per orang, pendapatan itu setara dengan empat hingga enam penumpang.

Ia tidak terlalu mempersoalkannya. Ada penghasilan lain yang menopang keluarga. Istrinya, perempuan asal Saumlaki, masih bekerja di sebuah rumah sakit di kawasan Tantui. Penghasilan sang istri dan uang sewa rumah kos menjadi penyangga ekonomi keluarga, termasuk untuk membiayai pendidikan kedua anak mereka.

Kedua anaknya kini sudah menjadi sarjana, menikah, dan memberinya tiga orang cucu.“ Perahu akan mati,” pikirnya ketika mengetahui jembatan itu akan mengubah kehidupan para penarik perahu.

jmp 6
Foto: Yeni Kristin untuk potretmaluku.id

Namun, ia segera menambahkan satu kalimat yang menggambarkan cara pandangnya menghadapi perubahan. “Seng apa-apa, asal jang katong yang mati.”

Ia tidak pernah memandang kehadiran jembatan sebagai sesuatu yang harus ditentang. Baginya, pembangunan tetap membawa kebaikan bagi banyak orang.

“Apa yang Tuhan buat itu baik,” katanya.

Ada rasa sesak sekaligus senang. Sesak karena pekerjaan yang telah dijalaninya sejak kecil perlahan kehilangan penumpang. Senang karena masyarakat kini memiliki akses yang lebih mudah untuk menyeberang.

Apakah penyeberangan perahu itu masih ada? Masih. Apakah masih diminati? Masih, meski jumlah penumpangnya jauh berkurang.

Om Yos dan penarik perahu lainnya bahkan memiliki kesepakatan sederhana. Jika ada penumpang, mereka akan melayani secara bergantian agar semua penarik perahu memperoleh bagian rezeki.


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3 4 5 6 7 8 9Next page

Berita Serupa

Back to top button