Kisah Om Yos, Penarik Perahu yang Menyiapkan Masa Depan
Membaca Jembatan
Pembangunan Jembatan Merah Putih (JMP) dimulai pada 17 Juli 2011. Ketika proyek itu berjalan, Om Yos untuk sementara meninggalkan pekerjaannya sebagai penarik perahu. Ia beralih menjadi petugas keamanan proyek hingga jembatan tersebut diresmikan Presiden Joko Widodo pada 4 April 2016.
Jembatan sepanjang sekitar 1.140 meter itu mengubah cara orang bergerak antara Poka dan Galala. Perjalanan yang sebelumnya harus memutar dan bisa memakan waktu sekitar satu jam kini dapat ditempuh dalam belasan menit.
Perubahan itu tentu membawa konsekuensi bagi penarik perahu. Sebuah kajian yang iterbitkan dalam Jurnal Arika oleh dosen Universitas Pattimura pada 2014, dua tahun sebelum jembatan diresmikan, mencatat bahwa 97 responden berniat beralih dari transportasi perahu ke kendaraan melalui jembatan.
Om Yos tidak membutuhkan kajian untuk memahami apa yang akan terjadi. Ia sudah menghitungnya sendiri.
Kalau jembatan ini selesai, siapa lagi yang mau naik perahu? Pertanyaan itu muncul jauh sebelum kendaraan pertama melintasi JMP. Namun, berbeda dengan mereka yang mungkin baru memikirkan dampak kehadiran jembatan setelah penumpang mulai berkurang, Om Yos sudah menyiapkan jawabannya.

Sambil tetap mendayung, ia mulai membangun rumah kos-kosan. Modalnya berasal dari hasil menarik perahu dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari bank. Pembangunan rumah kos-kosan itu diselesaikan dalam waktu sekitar empat bulan.
Saat itu, penumpang masih ramai. Dengan perahu kecil yang bisa mengangkut empat orang sekali jalan, ia bolak-balik menyeberangkan penumpang sejak pagi hingga sore. Pendapatannya bisa mencapai Rp 1 juta sehari.
Kehadiran kapal feri di Galala saat itu tidak terlalu mengganggu usahanya. Sebab, kapal feri biasanya baru berangkat setelah penumpang dan muatan memenuhi kapasitas kapal. Sementara itu, masyarakat yang hendak bekerja dan mahasiswa yang mengejar jadwal kuliah tidak ingin membuang waktu untuk menunggu.
Perahu Om Yos menjadi pilihan bagi mereka yang membutuhkan penyeberangan lebih cepat. Dari hasil itulah rumah kos-kosannya dibangun. Kini, bangunan tersebut memiliki 12 pintu dan seluruhnya sudah terisi. Rumah kos itu menjadi aset sekaligus sumber penghasilan tetap bagi keluarganya.
Jika ada satu hal yang membedakan Om Yos dari sebagian penarik perahu lainnya, mungkin itulah kemampuannya melihat bahwa sebuah usaha tidak selamanya bisa bertahan dengan cara yang sama. Ia tidak menunggu perahunya benar-benar kehilangan penumpang untuk mulai memikirkan masa depan.
Penulis :
Editor :



