Sosok

Kisah Om Yos, Penarik Perahu yang Menyiapkan Masa Depan

Ia masih ingat banyak foto yang diambil di tempat itu. Sayangnya, seluruh foto tersebut sudah tidak ada. Sebagian besar dokumentasi perjalanan dan kenangan masa atletnya ikut terbakar ketika kerusuhan Ambon terjadi pada 1999.

Piala dan medali yang pernah dikumpulkannya juga sebagian besar sudah tidak tersisa. Ada yang dijual kepada panitia kegiatan gereja atau kepada siapa saja yang berminat.

Bagi Om Yos, benda-benda itu tidak terlalu penting. Ia menganggapnya hanya barang plastik yang akhirnya menjadi tempat bersarang semut. Pengakuan sebagai mantan atlet dayung, menurut dia pribadi, tidak harus dibuktikan dengan menyimpan piala dan medali di rumah.

Dua bulan setelah PON, Om Yos mendapat tawaran menjadi pelatih dayung dengan gaji Rp 250 ribu per bulan. Ia menerima pekerjaan itu dan melatih calon atlet dayung Maluku selama tiga bulan. Namun, ia kemudian memutuskan berhenti.

Dalam perhitungannya, menjadi penarik perahu justru memberikan penghasilan lebih besar. Dalam sehari, pendapatannya bisa mencapai Rp 1 juta ketika penumpang sedang ramai. 

jmp 8
Foto: Yeni Kristin untuk potretmaluku.id

Ia pun memilih kembali mengandalkan perahu. Meski begitu, ia tidak sepenuhnya meninggalkan dunia olahraga. Pada waktu senggang, ia tetap melatih anak-anak yang ingin menjadi atlet dayung.

Beberapa anak yang pernah dilatihnya kini bahkan sudah menjadi pelatih dayung di KONI Provinsi.

Selepas menjadi atlet, Om Yos memang tidak memilih jalan sebagai pelatih profesional. Namun, pengalaman dan pengetahuannya tetap ia bagikan kepada generasi berikutnya. Ada bagian dari dunia dayung yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Sebelum kerusuhan Ambon, Om Yos juga pernah bekerja sebagai nahkoda kapal ikan pada sebuah perusahaan perikanan milik pengusaha asal Tiongkok.


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3 4 5 6 7 8 9Next page

Berita Serupa

Back to top button