Pendapat

Ketika Provokator Damai Masuk Istana: Jacky Manuputty Sedang Diuji

Oleh: Embong Salampessy (Jurnalis & Pekerja Perdamaian)


Ada orang yang masuk Istana karena ingin mendapatkan kekuasaan. Ada pula yang masuk karena kekuasaan akhirnya menyadari bahwa ada suara yang selama ini terlalu penting untuk terus dibiarkan berbicara dari luar pagar. Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty –sahabat yang biasa saya sapa Eky– barangkali lebih dekat dengan kategori kedua.

Pada Jumat, 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres. Nama Jacky Manuputty tercantum sebagai anggota ke-25 dalam Keputusan Presiden Nomor 107/P Tahun 2026 tersebut.

Menariknya, Jacky justru tidak hadir dalam pelantikan. Ia sedang berada di Chiang Mai, Thailand, mengikuti sebuah kegiatan dan tidak memungkinkan kembali ke Jakarta dalam waktu singkat. Beberapa hari kemudian ia menyatakan akan menindaklanjuti mandat tersebut dan meminta dukungan masyarakat.

Bagi saya, ketidakhadiran itu justru menarik. Bukan karena saya hendak membangun romantisme murahan bahwa Jacky sedang “menolak Istana”. Tidak. Namanya sudah ditetapkan secara resmi. Masuk dalam lembaran egara, dan ia menerima amanah tersebut.

Tetapi ada sesuatu yang terasa simbolik: seorang yang dipanggil masuk ke pusat kekuasaan ternyata sedang berada di luar negeri, mengerjakan sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya, membangun jembatan kemanusiaan dan perdamaian.

Dan mungkin di situlah kita harus membaca Jacky. Bukan pertama-tama sebagai pendeta. Bukan pula hanya sebagai Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Melainkan sebagai pekerja kemanusiaan, aktivis perdamaian, dan seorang anak Maluku yang bertahun-tahun belajar bahwa manusia tidak boleh dinilai hanya dari agama yang tertulis di kartu identitasnya.

Bukan Kursi yang Membuat Jacky

Penting Di Indonesia, kita punya kebiasaan yang agak lucu: seseorang baru dianggap penting setelah duduk di kursi penting. Begitu masuk kabinet, kita menyebutnya negarawan. Begitu masuk Istana, kita menyebutnya tokoh nasional. Begitu mendapat jabatan, biografinya mendadak menjadi panjang dan prestasinya terasa lebih bercahaya.

Padahal Jacky tidak baru menjadi penting setelah namanya masuk Keppres. Jauh sebelum Istana memanggil, ia sudah berjalan di lorong-lorong yang jauh dari karpet merah kekuasaan.

Persahabatan saya dengan Jacky dimulai di awal 1990an, saat ia ikut mengadvokasi penolakan besar-besaran oleh masyarakat adat Haruku dan organisasi lingkungan hingga, berhasil menghentikan total aktivitas eksplorasi perusahaan tambang di Pulau Haruku, salah satu pulau kecil di Maluku Tengah.

Sejak itu, saya tahu, dirinya mencatat perjalanan yang panjang: dari Haruku, Ambon, aktivisme masyarakat pesisir, dunia teologi, filsafat, kerja lintas iman, hingga keterlibatan dalam berbagai upaya perdamaian. Pengalaman itu bahkan membawanya bersentuhan dengan persoalan pengungsi dan konflik di berbagai tempat.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3 4 5 6 7Next page

Berita Serupa

Back to top button