Pendapat

BSAN “Rasa” LKLB di Maluku: Menjawab Tantangan Segregasi dan Trauma Sosial

Bagian kedua dari dua tulisan

Oleh: Zainal Arifin Sandia[*]


Dalam konteks pendidikan di Kota Ambon, kedua dampak konflik, sebagaimana telah diurai pada bagian pertama dari itulisan ini, nyata mengemuka di beberapa sekolah jenjang menengah negeri ternama yang lokasinya berada di wilayah dengan pemukim mayoritas beragama tertentu.

Dalam kasus ini, terkonfirmasi fakta yang dipercakapkan di beberapa forum di Kota Ambon, termasuk di forum LKLB, bahwa persentase jumlah peserta didik yang sekeyaminan (agama) dengan pemukim tampak sangat dominan dibanding peserta didik yang berbeda keyakinan dengan pemukim. 

Kenyataan di atas terang menjelaskan sebuah fenomena yang paradoks. Sebab, pada masa-masa sebelum konflik terjadi, komposisi persentasi jumlah peserta didik berbeda agama di sekolah yang lokasinya berada di pemukiman dengan mayoritas beragama tertentu realtif berimbang.

Satu kenyataan pra konflik yang memungkinkan ruang perjumpaan terbuka dan tersedia, dinamika sosialisasi dan inkteraksi (senda gurau, canda, dan tawa) antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru berbeda keyakinan berlangsung normal dan apa adanya, sehingga hubungan pertemanan, persahabatan, dan persaudaraan terbentuk, bertumbuh, berkembang, dan menguat berikut membentuk ikatan emosional sejati (pure engagement) di  antara peserta didik, antara peserta didik dengan guru, dan alumni sekolah. 

Kini, meski sudah lebih seperempat abad konflik berlalu, akan tetapi dampaknya di dunia pendidikan masih menyisahkan perkara relatif pelik, butuh gagasan cerdas, dan kerja keras ekstra serius (terencana, bertarget, terukur, dan berkelanjutan) untuk menyelesaikannya. Terlebih, jika perkaranya merembes hingga ke urusan sistem zonasi dalam proses penerimaan peserta didik baru.

Dapat dipastikan perkaranya jadi kian pelik dan tambah kompleks.Sebab itu, tidak bisa tidak, Pemda, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, ditantang sekaligus dituntut untuk segera menemukan jalan keluar yang kontekstual dan resolutif.

Keprihatinan dan kepedulian atas kepelikan dan kopleksitas persoalan pendidikan itulah yang menjadi salah satu pendorong (driving force) bagi Institut Leimena dan mitranya untuk menginisiasi, merancang dan melaksanakan program Literasi Keberagamaan Lintax Budaya (LKLB) Ke-1 dan Ke-6 dengan target grup guru-guru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, baik dari sekolah negeri maupun sekolah swasta, di Kota Ambon.

Berikut, diteruskan dengan ToT Sekolah Model Percontohan BSAN dengan pendekatan atau berbasis LKLB yang diikuti oleh guru dan kepala sekolah di Kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah.

*  *  *

Salah satu langkah konkrit yang telah diambil para guru dan kepala sekolah, peserta TOT BSAN “Rasa” LKLB itu adalah muncul dan terbentuknya komitmen bersesama untuk menindaklanjuti (follow up) apa yang sudah diperoleh guru dan kepala sekolah selama berpartisipasi dan berkontribusi dalam kegiatan LKLB Ke-1 sampai LKLB Ke-6 dan TOT BSAN-LKLB dalam bentuk Rencana Tindak Lanjut atau RTL. 

Dan, yang paling menarik dan begitu meyakinkan adalah perumusan RTL dibuat seturut enam Key Peformence Indicator (KPI) sebagai parameter keberhasilan.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button