Pendapat

Ketika Provokator Damai Masuk Istana: Jacky Manuputty Sedang Diuji

Semalam, dalam percakapan kami, saya bertanya tentang soal jabatan dan fasilitas. Jawaban Jacky kepada saya sederhana. Ia mengatakan kepada saya bahwa ia tidak akan menerima honor atau gaji sepeser pun dari posisi tersebut.

Dan jika hak keuangan itu memang harus diterima karena ketentuan yang berlaku, jacky berkomitmen agar penyalurannya dilakukan melalui mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan. Penggunaannya akan diperiksa dan diinformasikan secara transparan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan membutuhkannya.

Saya tentu tidak sedang mengatakan bahwa pernyataan pribadi ini otomatis harus dipercaya sebagai fakta publik sebelum mekanismenya benar-benar terlihat. Justru sebaliknya. Menurut saya, ini adalah janji yang harus diuji.

Sebab integritas bukan sesuatu yang cukup diucapkan di meja makan atau dalam percakapan antarsahabat. Integritas harus bisa dilihat ketika rekening, fasilitas, keputusan dan kekuasaan mulai bersentuhan. Apalagi Wantimpres memang memperoleh hak keuangan dan fasilitas yang secara resmi diberikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Jadi kalau Jacky benar-benar memilih untuk tidak menikmati hak tersebut secara pribadi dan mengarahkannya untuk kepentingan sosial, biarlah waktu yang membuktikannya. Saya justru senang kalau publik kritis.

Karena seorang aktivis perdamaian yang masuk Istana tidak boleh mendapatkan cek kosong dari publik. Ia harus diawasi justru karena kita berharap terlalu banyak darinya.

Jangan Jadikan Jacky Stempel Kekuasaan

Ada satu bahaya lain yang harus dikatakan terus terang. Kekuasaan bisa saja tergoda menggunakan legitimasi moral seseorang. Apalagi seseorang seperti Jacky. Seorang pendeta. Ketua Umum PGI. Tokoh perdamaian dari Maluku. Orang yang dikenal dalam kerja lintas agama.

Betapa mudahnya semua itu dipasang menjadi semacam “stempel moral”. Ini berbahaya. Sebab kalau setiap kebijakan pemerintah kemudian cukup ditempeli foto Jacky, lalu dianggap otomatis bermartabat, kita sudah salah membaca demokrasi.

Jacky tidak boleh menjadi dekorasi moral bagi kekuasaan. Dan pemerintah juga tidak membutuhkan dekorasi. Yang dibutuhkan adalah suara yang jujur.

Sebab demokrasi membutuhkan orang-orang yang berani mengatakan “tidak” kepada orang yang sangat berkuasa. Kalau semua penasihat hanya mengatakan “ya”, untuk apa namanya penasihat? Lebih baik disebut tim sorak.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6 7Next page

Berita Serupa

Back to top button