Pendapat

Ketika Provokator Damai Masuk Istana: Jacky Manuputty Sedang Diuji

Itulah sebabnya saya justru merasa penunjukan ini harus dibaca secara lebih dewasa. Jangan buru-buru diberi label “representasi gereja”. Dan jangan pula buru-buru dicurigai sebagai “orang Istana”. Jacky adalah Jacky. Pengalaman panjangnya dalam kerja perdamaian di Maluku menunjukkan bahwa ia terbiasa bekerja melampaui pagar identitas.

Tulisan-tulisan dan berita-berita tentang dirinya selama ini, juga menggambarkan bagaimana pendekatan yang dibangun bukan sekadar dialog antaragama di ruang seminar, tetapi perjumpaan dengan masyarakat, korban, komunitas dan mereka yang hidup di tengah luka konflik. Itulah modal terbesarnya.

Bukan gelar. Bukan jubah. Bukan kursi. Melainkan kepercayaan. Kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.

Dari Ambon ke Istana: Membawa Suara yang Tidak Terlihat

Bagi saya, inilah peluang terbesar dari kehadiran Jacky di Wantimpres. Wantimpres memang bukan kementerian. Ia bukan lembaga eksekutif yang bisa mengeluarkan perintah kepada gubernur, bupati, aparat, atau birokrasi.

Tugasnya adalah memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden. Bahkan secara kelembagaan, Wantimpres berada di bawah Presiden dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Tetapi jangan remehkan akses. Kadang-kadang sebuah masalah tidak membutuhkan orang yang punya palu. Ia hanya membutuhkan orang yang bisa membuka pintu. Dan Jacky punya pengalaman mendengarkan orang-orang yang biasanya tidak masuk ke ruangan pengambilan keputusan.

Persoalan rumah ibadah. Konflik agraria. Masyarakat adat. Papua. Maluku. Kemiskinan. Kekerasan. Trauma pascakonflik. Hubungan antaragama. Semua itu bukan teori baginya.

Sejumlah tulisan tentang perjalanan Jacky yang dipublikasi media di tanah air, bahkan menggambarkan bagaimana ia terlibat dalam kerja-kerja perdamaian dan rekonsiliasi lintas iman, termasuk dalam konteks Papua.

Saya teringat satu prinsip sederhana yang ditulis —sahabat saya yang juga sahabat Jacky– Steve Gaspersz: cukup dekat untuk memengaruhi, tetapi cukup merdeka untuk mengingatkan.

Itu mungkin formula terbaik untuk membaca posisi Jacky. Dekat, tetapi tidak tunduk. Terlibat, tetapi tidak larut. Mendengar Presiden, tetapi tetap mampu mendengar rakyat.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6 7Next page

Berita Serupa

Back to top button