Ketika Provokator Damai Masuk Istana: Jacky Manuputty Sedang Diuji
Saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan ucapan selamat yang terlalu manis. Jacky tidak membutuhkan tepuk tangan saya. Ia juga tidak membutuhkan pembelaan membabi buta. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih sulit: teman-teman yang berani mengingatkannya.
Sebab masuk ke pusat kekuasaan selalu membawa godaan. Godaan untuk merasa penting. Godaan untuk merasa didengar. Godaan untuk merasa bahwa karena sudah berada di dalam, semua kritik dari luar pasti tidak memahami kompleksitas persoalan.
Padahal justru ketika seseorang berada semakin dekat dengan kekuasaan, ia membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia berkata: “Bung Jack, jang lupa dari mana ale datang.”
Dan saya kira itulah pesan yang ingin saya titipkan sebagai seorang Muslim kepada sahabat saya yang seorang pendeta. Masuklah ke Istana. Dengarkan Presiden. Berikan pertimbangan dengan kepala dingin.
Bawa data, bukan sekadar slogan. Bawa pengalaman korban, bukan sekadar teori. Bawa suara dari Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, NTB, NTT, dan berbagai tempat yang selama ini jauh dari pusat keputusan.
Tetapi jangan tinggalkan manusia-manusia yang dahulu membuatmu memilih jalan perdamaian. Sebab pada akhirnya, seorang penasihat tidak dinilai dari seberapa dekat ia dengan telinga Presiden. Ia dinilai dari seberapa jujur ia berbicara ketika kebenaran sedang tidak populer.
Saya tentu berharap Jacky tetap menjadi Eky yang saya kenal: seorang sahabat, seorang pekerja kemanusiaan, seorang provokator damai, dan kalau perlu, seorang pengganggu yang sopan bagi kenyamanan kekuasaan.
Sebab mungkin Indonesia tidak kekurangan orang yang pandai berbicara kepada penguasa. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang berani membuat penguasa berpikir ulang.
Selamat menjalankan amanah, Eky. Masuklah dengan kepala tegak. Duduklah dekat kekuasaan, tetapi jangan menjadi miliknya. Dan kalau suatu hari suara itu tidak lagi didengar, kita akan melihat mana yang lebih kuat: kursi Wantimpres atau panggilan untuk tetap berpihak kepada manusia. Mungkin justru dari sanalah cerita sesungguhnya baru dimulai.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



