Ketika Provokator Damai Masuk Istana: Jacky Manuputty Sedang Diuji
Hal yang paling menarik dari percakapan kami justru bukan soal jabatan itu sendiri. Jacky mengatakan kepada saya bahwa ia akan tetap konsisten berada di rel perjuangannya. Dan kalau kelak ia berada di dalam wadah tersebut tetapi suaranya tidak didengar, ia merasa mempunyai hak untuk meninggalkan wadah itu.
Saya kira ini penting. Bukan karena keluar dari Wantimpres akan otomatis membuat seseorang menjadi pahlawan. Tidak. Kadang-kadang orang keluar karena kecewa. Kadang karena kepentingannya tidak terakomodasi. Kadang karena persoalan pribadi.
Tetapi jika prinsipnya jelas –masuk untuk memberi masukan, bukan untuk kehilangan suara— maka keputusan untuk pergi ketika prinsip itu tidak lagi mungkin dijalankan, justru bisa menjadi bentuk konsistensi.
Di sinilah saya ingin melihat Jacky berbeda dari banyak orang yang pernah masuk ke pusat kekuasaan. Banyak orang ketika masuk ke dalam sistem berkata, “Saya akan memperjuangkan sesuatu dari dalam.”
Masalahnya, kita sering lupa menanyakan: Sampai kapan? Sampai kapan seseorang masih bisa berkata tidak? Sampai kapan kompromi masih disebut strategi? Dan pada titik mana kompromi berubah menjadi penyerahan diri? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu dijawab hari ini. Tetapi harus terus ditanyakan.
Maluku Sedang Mengirim Satu Pesan
Ada sesuatu yang menurut saya lebih besar dari sekadar Jacky Manuputty. Ia lahir dari Maluku. Daerah yang pernah mengalami luka konflik komunal yang sangat dalam. Daerah yang mengajarkan satu pelajaran mahal: bahwa ketika masyarakat gagal merawat perbedaan, tetangga bisa berubah menjadi musuh; tetapi ketika masyarakat berani membangun kembali kepercayaan, bekas musuh pun bisa kembali menjadi basudara.
Karena itu, jika seorang anak Maluku akhirnya duduk di ruang tempat keputusan nasional dipertimbangkan, saya ingin percaya bahwa yang ikut masuk bukan hanya dirinya. Masuk pula pengalaman Maluku. Masuk pula suara orang-orang yang pernah kehilangan rumah. Masuk pula suara ibu-ibu yang pernah takut keluar rumah. Masuk pula pengalaman anak-anak yang tumbuh setelah konflik dan harus belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling membunuh.
Dan kalau boleh sedikit provokatif: mungkin sudah terlalu lama Jakarta mengajarkan Indonesia bagaimana cara berdamai. Sesekali biarkan orang-orang dari daerah yang pernah mengalami konflik mengajarkan Jakarta apa arti perdamaian.
Itulah mengapa saya melihat penunjukan Jacky bukan sebagai hadiah. Saya melihatnya sebagai ujian. Untuk Jacky. Untuk pemerintah. Untuk gereja. Dan juga untuk kita semua.
Steve Gaspersz menulis bahwa keberhasilan seorang anggota Wantimpres seharusnya tidak diukur dari jabatan, tetapi dari perubahan nyata yang bisa dilihat masyarakat: apakah kelompok rentan lebih terlindungi, apakah kebijakan berubah karena masukan berbasis fakta lapangan, dan apakah ada keberanian menyatakan sikap ketika kebijakan pemerintah bertentangan dengan nurani.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



