Ketika Provokator Damai Masuk Istana: Jacky Manuputty Sedang Diuji
Saya sepakat. Setahun atau dua tahun dari sekarang, jangan tanyakan berapa kali Jacky masuk Istana. Jangan tanyakan berapa kali ia duduk di samping Presiden. Jangan tanyakan berapa banyak rapat yang ia hadiri.
Tanyakan hal yang lebih sederhana. Siapa yang menjadi lebih didengar karena Jacky berada di sana? Apakah orang kecil? Apakah masyarakat adat? Apakah korban konflik? Apakah kelompok minoritas? Apakah mereka yang rumah ibadahnya bermasalah? Apakah masyarakat di wilayah timur Indonesia yang sering hanya muncul di berita ketika terjadi kerusuhan?
Kalau suara mereka masuk ke ruang kekuasaan, maka kursi itu punya arti. Kalau tidak, kursi itu hanya kursi. Dan Indonesia sebenarnya sudah punya terlalu banyak kursi. Yang kita kekurangan adalah keberanian untuk mengisinya dengan orang yang tidak takut berdiri ketika kursi itu ternyata salah arah.
Menjadi Terang, Betapapun Kecil
Kita hidup dalam suasana ketika sebagian orang menggambarkan Indonesia sedang berada dalam kondisi “gelap”. Istilah itu bisa diperdebatkan. Bahkan boleh saja kita tidak sepakat dengannya.
Namun bagi jacky, dalam keadaan segelap apa pun indonesia, manusia tetap dipanggil untuk menjadi terang, betapa pun kecilnya terang itu. Prinsipnya, terang tidak harus selalu besar, spektakuler, atau mampu menerangi seluruh negeri. Yang penting, ia tetap hadir dan tidak memilih padam.
Prinsip itulah yang selama ini Jacky yakini, yang sudah sering dia sampaikan dalam sejumlah tulisan, wawancara, khutbah maupun saat didapuk memberikan sambutan pada sekian banyak acara, dan prinsip itu pula yang sekarang memberinya harapan dalam menjalankan penugasan di wantimpres.
Bukan semata-mata pesimisme, tetapi juga bukan optimisme yang naif. Melainkan harapan untuk tetap bekerja, tetap bersuara, dan tetap menjadi terang di ruang yang dipercayakan kepadanya.
Saya menyukai cara berpikir semacam itu. Sebab optimisme tanpa kewaspadaan bisa berubah menjadi kepolosan. Sebaliknya, pesimisme yang terlalu jauh bisa membuat orang menyerah sebelum berjuang. Harapan berada di antara keduanya.
Harapan membuat seseorang tetap percaya bahwa sesuatu bisa diperbaiki, tetapi sekaligus sadar bahwa perbaikan itu membutuhkan kerja, keberanian, dan ketekunan. Mungkin itulah yang paling dibutuhkan Jacky sekarang. Bukan tepuk tangan. Bukan glorifikasi. Bukan pula kecurigaan berlebihan. Yang dibutuhkan adalah ruang untuk bekerja sekaligus ruang untuk mengingatkan.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



