AmboinaLingkungamPendapat

Dari Tete Momo ke Sasi Api: Kearifan Lokal Menghadapi Karhutla

PENDAPAT

Catatan antropologis ini lahir dari percakapan bersama istri saat menyesap kopi di tengah kepungan asap karhutla Kota Ambon

Oleh: Joberth Tupan (Pendeta Gereja Protestan Maluku, Dosen Universitas Kristen Indonesia Maluku)


Kemarin sore, di beranda kafe lereng perbukitan Kota Ambon, saya dan istri bermaksud melarutkan penat sepekan. Ditemani semilir angin gunung dan aroma kopi hangat, kami menikmati ritual sederhana, “menatap teluk”.

Sayangnya, lanskap jingga senja justru terkepung kabut kelabu karhutla. Distorsi ruang hidup ini memicu kecemasan ekologis saat lanskap akrab berubah mengancam (solastalgia). Obrolan santai kami pun meredup, berganti kerisauan.

Kerusakan lanskap yang kami saksikan bukanlah pengalaman terisolasi. Nyaris setiap hari, lengkingan sirene pemadam membelah lanskap suara Kota Ambon. Mulanya, lengkingan itu adalah penanda indeksikal darurat atas respons negara terhadap krisis.

Namun, repetisi bunyiharian memicu habituasi sensorik di telinga warga dan mendevaluasi maknanya. Sirene itu akhirnya tereduksi menjadi derau latar (ambient noise), mengendapkan tragedi ekologis menjadi sekadar ritme akustik kota yang tak lagi dipertanyakan.

Di balik repetisi bunyi tersebut, terdapat eskalasi kejadian kebakaran yang menuntut perhatian serius. Karhutla Oktober 2026 menjadi krisis sosio-ekologis serius di Kota Ambon. Kepada Carang TV Ambon (9/10), Kadis Damkar Alfredo Hehamahua melaporkan penanganan 21 kejadian kebakaran sepanjang 1–7 Oktober 2026.

Mengapa api terus berulang meski tampak padam? Secara pirologis, padamnya api permukaan tidak menghentikan pembakaran. Meminjam analisis Elham Sumarga dari ITB, terjadi dinamika oksidasi eksotermik tanpa nyala di lapisan humus dan akar kering yang kembali berkobar saat tersuplai oksigen (smoldering).

Namun, penjelasan mengenai mekanisme api saja belum cukup untuk memahami mengapa karhutla terus berulang. Menyalahkan kemarau ekstrem, El Nino, maupun asap kiriman dari Papua, Buru, dan Seram—meski dikonfirmasi BMKG dan Dinas Kehutanan—adalah reduksionisme yang problematis.

Narasi ini merupakan depolitisasi bencana yang mengambinghitamkan determinisme alam guna menutupi persoalan publik. Faktanya, karhutla Kota Ambon berakar pada  kerentanan tata kelola urban lokal: ekspansi hunian padat di lereng rawan, habitus pembakaran sampah domestik, hingga lemahnya sistem mitigasi bencana.

Kerentanan lokal tersebut perlu ditempatkan dalam konteks empiris yang lebih luas mengenai hubungan aktivitas manusia dan kerusakan ekologis. Secara empiris, karhutla tropis kini murni dipicu intervensi antropogenik. Kuantifikasi Maravalhas dkk. (2023) membuktikan 29,8–36,8 persen kerusakan tutupan pohon dunia bersumber dari aktivitas manusia.

Pada skala urban, studi Sánchez-Guevara dkk. (2024) atas 124 kota kecil tropis di Amerika Latin menemukan 51 persennya terancam karhutla antropogenik dan 23 persen tanpa rencana mitigasi. Di Indonesia, Herawati dan Santoso (2020) mengidentifikasi pembukaan lahan ilegal sebagai pemicu utama, mempertegas defisit tata kelola ruang dan mitigasi kita.

Jika bukti-bukti tersebut menunjukkan keterlibatan aktivitas manusia, persoalan karhutla tidak dapat dilepaskan dari struktur ekonomi-politik yang membentuk relasi manusia dengan alam. Tragedi karhutla di Indonesia merupakan warisan struktural rezim ekonomi-politik ekstraktif sejak era Orde Baru.

Demi akumulasi devisa, ekosistem hutan dikomodifikasi menjadi aset likuid, sementara api diinstrumentalisasi sebagai insentif pembukaan lahan paling murah. Kombinasi ekspansi perkebunan skala besar, pengeringan lahan, dan lemahnya penegakan hukum akhirnya memicu kehancuran sistemik. Bencana ini menegaskan bahwa karhutla bukanlah peristiwa alam murni, melainkan konsekuensi struktural dari pembangunan yang menumbalkan ketahanan ekologis.

Meski demikian, memahami karhutla semata-mata sebagai konsekuensi ekonomi-politik modern berisiko mengabaikan sejarah panjang relasi masyarakat dengan api. Secara historis, relasi masyarakat Maluku dengan api memiliki genealogis kultural yang kompleks. Leonard Y. Andaya dalam “The World of Maluku” mencatat praktik perladangan tebang-bakar sebagai teknik agro-ekologis tradisional untuk memperkaya nutrisi tanah melalui mineralisasi abu vegetasi.

Api juga hadir dalam dinamika geopolitik kolonial dan peperangan lokal. Artinya, api telah lama menjadi artikulasi kebudayaan dalam mengelola alam dan kekuasaan—yang bergeser hari ini hanyalah skala serta konteks ruangnya.

Justru karena api memiliki sejarah panjang dalam kehidupan manusia, persoalan utamanya adalah perubahan relasi manusia dengan risiko yang ditimbulkannya. Kerentanan ini kian diperparah oleh patologi kognitif kolektif berupa “amnesia-api”.

Begitu hujan turun dan kabut asap terbilas dari langit kota, memori kolektif warga maupun ingatan institusional pengambil kebijakan seketika mengalami pelupaan sosial. Kelengahan pengawasan, refleks membakar sampah, dan minimnya investasi mitigasi kembali berulang. Dalam struktur mnemonik kota, api hanya diingat reaktif saat membara lalu dilupakan tatkala padam, menjebak bencana dalam siklus kompulsif alih-alih menjadi pembelajaran kultural.

Pelupaan kolektif tersebut memungkinkan dampaknya didistribusikan secara tidak adil. Amnesia-api berbanding lurus dengan produksi eksternalitas ekologis yang timpang di ruang kota. Secara mikro-ekonomi, pembakaran lahan atau sampah memang menawarkan efisiensi pragmatis bagi segelintir aktor.

Namun, melalui mekanisme “tragedy of the commons”, dampak udara beracun, gangguan kesehatan, dan degradasi vegetasi dipikul secara kolektif oleh publik. Warga yang tidak pernah menyulut api dipaksa menginternalisasi racunnya, menggeser isu teknis karhutla menjadi krisis keadilan lingkungan dan hak atas udara bersih.

Ketimpangan dampak tersebut juga turut membangun cara-cara sosial untuk menghadapi krisis. Di tengah himpitan eksternalitas tersebut, ruang siber warga Ambon bertransformasi menjadi arena resiliensi sipil. Lini masa media sosial dipenuhi sirkulasi informasi, imbauan menjaga kesehatan, hingga lantunan doa.

Menariknya, muncul pula tafsir mistis yang mempersonifikasi sosok api. Narasi spiritual ini tidak semestinya dipertentangkan, tetapi perlu dibaca sebagai mekanisme koping warga dalam menavigasi krisis yang mengguncang dimensi material, emosional, sekaligus eksistensial mereka.

Respons warga melalui ruang siber memperlihatkan bahwa pemaknaan atas api berakar pada khazanah simbolis dan pengetahuan lokal. Kesadaran ekologis ini sejatinya telah terhujam dalam arsip folklor lokal. Dalam “Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease”, mitos seorang kakek sakti (Tete Momo) menyuguhkan oposisi simbolis antara air dan api.

Api yang dikuasai kesombongan berakhir melahap seisi hutan. Folklor ini bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan instrumen pedagogi kultural tentang bahaya kejumawaan manusia dan vitalnya menjaga ekuilibrium kosmis lintas generasi.

Akan tetapi, pengetahuan kultural tidak cukup berhenti sebagai ingatan atau simbol moral. Nilai-nilai tersebut perlu diterjemahkan menjadi praktik kolektif yang mampu mencegah kebakaran sebelum terjadi. Menghadapi krisis ini, Kota Ambon membutuhkan ko-manajemen pengendalian kebakaran yang merangkul kelembagaan adat.

Dalam tradisi di Maluku, sasi merupakan pranata kosmologis, sosial-ekologis, dan hukum adat yang adaptif. Nilai ini dapat direvitalisasi menjadi “sasi api” di negeri-negeri adat dan perbukitan Ambon: menetapkan zona larangan bakar saat kemarau, mengaktifkan patroli kolaboratif, serta menyediakan pengelolaan sampah komunal dan hidran lereng.

Pada akhirnya, karhutla 2026 menegaskan hadirnya disrupsi spasial yang mengoyak tatanan ekologi Kota Ambon. Keberlanjutan kota menuntut integrasi daya dukung lingkungan ke dalam cetak biru tata ruang secara proaktif sebelum kemarau melanda.

Alam adalah amanah Tuhan yang mengharamkan eksploitasi nirbatas. Visi pembangunan harus dijangkari keadilan ekologis yang profetik—memulihkan ruang yang rusak sekaligus melindungi warga dari eksternalitas negatif akibat api yang tak pernah mereka nyalakan.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button