Ketika Provokator Damai Masuk Istana: Jacky Manuputty Sedang Diuji
Ia tumbuh dalam lingkungan yang membentuk kepedulian sosial dan keberagaman. Teman-temannya dari masa sekolah mengenang Jacky sebagai sosok yang mudah bergaul, suka menolong, tidak terlalu peduli pada perbedaan agama dalam persahabatan, bahkan kerap menjadi penengah ketika terjadi konflik kecil antarteman.
Kalau membaca perjalanan itu, saya justru melihat bahwa jabatan Wantimpres hanyalah satu bab baru dari perjalanan yang jauh lebih panjang. Kursi itu tidak menciptakan Jacky. Jacky-lah yang membawa seluruh pengalaman hidupnya ke kursi itu. Dan di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Seorang Pendeta di Ruang Kekuasaan
Tulisan sahabat saya, Steve G. C. Gaspersz di potretmaluku.id, yang saya baca menyentil pertanyaan yang sangat penting: ketika seorang pemimpin agama masuk ke lingkar kekuasaan, publik biasanya terbelah dua. Ada yang berkata, “Bagus. Akhirnya suara umat didengar.” Ada yang menjawab, “Hati-hati. Jangan-jangan ini awal dari kooptasi.”
Kedua kekhawatiran itu sama-sama masuk akal. Sebab sejarah Indonesia memberi cukup banyak contoh tentang bagaimana kekuasaan bisa membuat seseorang berubah. Tidak selalu dengan ancaman. Tidak selalu dengan uang. Kadang-kadang jauh lebih halus.
Bahasa seseorang berubah. Cara berpikirnya berubah. Cara melihat persoalan berubah. Yang dulu disebut ketidakadilan, setelah duduk di dalam sistem, tiba-tiba disebut “kompleksitas persoalan”. Yang dulu disebut penderitaan rakyat, mendadak berubah menjadi “dinamika pembangunan”. Dan yang dulu terasa sebagai masalah besar, tiba-tiba menjadi “perlu dikaji lebih lanjut”.
Kekuasaan memang punya kemampuan luar biasa untuk membuat bahasa menjadi sopan ketika realitas sedang tidak sopan. Karena itu, pertanyaan terhadap Jacky bukan: “Mengapa seorang pendeta mau masuk Istana?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: “Apakah Jacky masih bisa mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar Istana?” Saya berharap jawabannya: bisa. Bahkan harus bisa.
Saya Mengenal Jacky Bukan Karena Ia Pendeta
Saya seorang Muslim. Karena itu, saya tidak melihat masuknya Jacky ke Wantimpres sebagai kemenangan satu kelompok agama atas kelompok agama lainnya.
Saya tidak merasa bahwa karena Jacky seorang Kristen maka saya harus melihatnya sebagai “wakil umat Kristen” yang kemudian duduk di Istana. Tidak. Saya mengenal Jacky terutama sebagai manusia.
Sebagai sahabat. Sebagai seorang yang bekerja di wilayah yang bagi saya jauh lebih luas daripada batas-batas institusi agama: kemanusiaan, perdamaian, keadilan dan keberanian untuk mendengar mereka yang sering tidak didengar.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



