AmboinaLingkunganMaluku Tengah

Musim Tak Lagi Setia, Cerita dari Negeri Tulehu dan Hutumuri

Hujan di pesisir Pulau Ambon, Maluku, sudah lama tak mengenal musim. Pagi bisa turun deras, lalu matahari kembali menyala di siang hari, menyengat hingga membuat tanah merekah. Seperti yang belakangan terjadi di Negeri Hutumuri, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, dan Negeri Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.

Pada dua negeri adat di Pulau Ambon, yang berjarak sekitar 35 sampai 40 menit perjalanan dari pusat Kota Ambon ini, warga kini hidup bersama ketidakpastian yang dulu hanya dikenal lewat cerita.

“Kalau dulu musim timur seng (tidak) dapa (dapat) lihat matahari sampai musim abis (selesai),” kata Yohanis Waas, 67 tahun, petani dan pengurus adat Hutumuri. “Sekarang hujan panas, hujan panas, datang bergantian cepat sekali.”

Ia menatap kebun di belakang rumah yang mulai ditumbuhi rumput tinggi. Di musim yang tak menentu, tak mudah menentukan kapan harus membersihkan kebun, menanam, atau menebang pohon. 

Dulu, katanya, orang bisa menebak arah musim hanya dengan melihat angin atau mendengar suara laut. Sekarang, tanda-tanda alam itu seolah tak lagi bisa dipercaya.

Musim yang Tak Menentu

Pada banyak rumah di Negeri Hutumuri, yang berpenduduk 5.086 jiwa ini, pipa air tetap mengalir siang dan malam. Tidak ada krisis air bersih di sini. Sumber mata air dari pegunungan masih mencukupi kebutuhan warga. Namun yang berubah adalah waktu hujan dan lama kemarau. 

“Dulu musim hujan dan kemarau bisa ditebak, sekarang tidak lagi,” ujar Samuel Kappuw, 31 tahun, Kepala Urusan Umum Kantor Desa Hutumuri. “Musim kemarau juga terasa lebih panas dari dulu.”

tulehu
Sungai di Negeri Hutumuri, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon.(Foto: Ezra Noya untuk potretmaluku.id)

Yohanis Waas menambahkan, “Tahun sekarang paling panas. Dulu kalau musim hujan datang, hujan terus. Sekarang, baru hujan sebentar, lalu panas lagi.”

Hujan yang datang singkat tapi deras kadang menimbulkan banjir kecil. Ia masih ingat peristiwa tahun 1992, ketika air dari gunung meluap dan menerjang hingga ke permukiman. 

“Air semata kaki saja sudah cukup bikin jalan becek dan rumah berlumpur,” katanya.

Namun di sela ketidakpastian itu, warga tidak kekurangan air bersih. “Air 24 jam non-stop,” ujar Yohanis. “Kalau ada sumber air bermasalah, kami saling bantu. Air di sini tidak pernah mati.”

Panas yang Panjang dan Hujan yang Tiba-tiba

Di Negeri Tulehu dengan jumlah penduduk sekira 28.761 jiwa (data sensus kependudukan 2022) ini, Kadir Ohorella, 74 tahun, petani dan pengurus adat, juga merasakan hal serupa. Ia menyebut bahwa dulu, musim kemarau bisa diprediksi dan disyukuri karena menjadi waktu terbaik untuk panen. Kini, terkadang panas bisa datang lebih panjang dari biasanya. 

“Tahun lalu panas lebih dari dulu,” ujarnya. “Dulu pohon duku dan langsat berdaun hijau terus, sekarang bisa kering dan gugur sebelum waktunya.”

Ia masih ingat kemarau panjang di tahun 1998, saat persediaan air harus dibawa ke kebun karena hujan tak kunjung datang. “Sekarang juga sering begitu, hanya saja panasnya lain, lebih terik,” katanya.

Namun di balik panas itu, hujan deras juga datang tiba-tiba. Di jembatan Wairutu, air sempat naik hingga lutut orang dewasa. “Cuma sejam lebih, lalu surut,” kata Kadir. “Sekarang cuaca tidak bisa ditebak, pagi panas, sore hujan deras.”

Hulan Maulana Ohorella, 42 tahun, tokoh pemuda di Tulehu, mengakui bahwa pola musim yang bergeser ikut mengubah kebiasaan warga. 

“Hujan terus, tapi kadang panasnya luar biasa,” ujarnya. “Kita masih punya air bersih, tapi waktu menanam dan panen tidak bisa lagi seperti dulu.”


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button