Musim Tak Lagi Setia, Cerita dari Negeri Tulehu dan Hutumuri
Sinyal dari Langit dan Data
Perubahan yang dirasakan oleh masyarakat Tulehu dan Hutumuri bukan sekadar persepsi. Data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperlihatkan tren kenaikan suhu udara yang signifikan di Indonesia, termasuk di wilayah Maluku.
Pada periode normal 1991–2020, suhu udara rata-rata nasional tercatat sekitar 26,7 derajat Celsius. Namun pada tahun 2024, suhu rata-rata itu melonjak menjadi 27,5 derajat, menjadikan 2024 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah pengamatan BMKG sejak 1981.
Meski data suhu udara spesifik untuk Kota Ambon belum tersedia secara publik, tren nasional ini memberikan gambaran kuat bahwa Maluku, termasuk daerah pesisir seperti Tulehu dan Hutumuri, turut mengalami dampak kenaikan suhu tersebut.
Fenomena ini beriringan dengan pola hujan yang berubah dan musim yang kian tak menentu, perubahan iklim nyata yang memengaruhi ritme hidup masyarakat adat di pesisir Pulau Ambon.
Fenomena kenaikan suhu dan perubahan pola hujan di Maluku juga sejalan dengan tren global yang dipantau oleh BMKG dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Zona timur Indonesia, termasuk Maluku, tercatat sebagai salah satu kawasan paling rentan terhadap perubahan pola angin musiman dan fluktuasi suhu permukaan laut yang berdampak langsung pada iklim lokal.
Bagi masyarakat adat di pesisir, perubahan itu terwujud dalam hal-hal sederhana: waktu menanam yang bergeser, buah yang lebih cepat gugur, dan pagi yang makin panas sebelum hujan turun lagi sore harinya.
Musim yang Bergeser, Hidup yang Menyesuaikan
Di Hutumuri, Yohanis Waas masih pergi ke kebun setiap pagi, meski kini lebih berhati-hati ketika jalan licin karena hujan tak terduga.
Di Tulehu, Kadir Ohorella masih menyiram tanaman di halaman rumahnya dengan air dari pipa desa yang mengalir tanpa henti.

Air masih ada. Namun, keajegan alam yang dulu mereka kenal, yang mengatur kapan menanam, menebang, dan berlayar, mulai hilang perlahan.
“Dulu orang bisa bilang, bulan ini hujan, bulan depan panas,” kata Julaila. “Sekarang, tidak bisa lagi. Semua sudah berubah.”
Perubahan iklim di dua negeri ini tidak tampil dalam bentuk bencana besar. Ia hadir sebagai perubahan kecil yang terus mengganggu keseimbangan: hujan yang datang tak tentu, panas yang makin tajam, dan sungai yang sesekali meluap.
Namun masyarakat di sini tidak menyebutnya sebagai “krisis.” Mereka menyebutnya tanda-tanda alam, isyarat bahwa bumi sedang bergeser, bahwa manusia perlu kembali belajar membaca langit.
Ketika hujan akhirnya turun sore itu di Tulehu, Julaila berdiri di ambang rumah, menatap langit yang kelabu. Rintik air menari di atas atap seng, membawa suara yang dulu terasa akrab.
“Air masih datang,” ucapnya pelan, nyaris seperti menyakinkan dirinya sendiri. “Tapi sekarang, kita hanya bisa menunggu, karena dia datang bukan lagi pada waktunya.”(Zairin Salampessy)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



