AmboinaLingkunganMaluku Tengah

Musim Tak Lagi Setia, Cerita dari Negeri Tulehu dan Hutumuri

Musim yang tak menentu mengubah banyak hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Di Hutumuri, hujan yang datang tanpa pola sering membuat jalan menuju kebun licin, sementara tanah di kebun menjadi becek dan sulit digarap. 

Di Tulehu, kebun sayur di sekitar rumah terendam, dan warga lebih memilih menanam di pot atau bedengan kecil.

\Pada sungai yang melintas di antara permukiman, ibu-ibu masih mencuci pakaian dan membersihkan ikan. Anak-anak tampak bermain riang di tepi air yang mengalir tenang.

Ketika cuaca panas, sungai terlihat jernih; tapi setelah hujan besar, air berubah keruh karena membawa tanah  merah dan sisa sabun cuci. 

“Kami sudah biasa begitu,” kata Jubaidah Kota, 54 tahun. “Kalau sungai kotor, tinggal tunggu satu dua hari, nanti jernih lagi.”

Mereka tak pernah merasa air benar-benar hilang. Yang hilang adalah keajegan musim, ritme yang dulu menjadi patokan hidup petani, nelayan, dan ibu rumah tangga di dua negeri ini.

Sanitasi dan Perubahan Kualitas Air

Walau air melimpah, sanitasi di beberapa rumah belum sepenuhnya baik. Banyak warga memiliki toilet sederhana di bagian belakang rumah, berdinding papan atau seng, dengan saluran pembuangan langsung ke tanah atau sungai.

“Kalau di pantai, air mandi langsung ke kali,” kata Yohanis. “Orang pikir sudah di ujung pantai, jadi aman.”

Di Tulehu, praktik serupa masih ditemukan. Sungai yang digunakan bersama menjadi tempat mandi, mencuci, bahkan mencuci hasil laut.

“Air di bagian atas kali untuk mandi-mandi, bagian bawah untuk cuci pakaian,” ujar Nona Papilaya, 43 tahun, seorang ibu rumah tangga. “Kalau hujan besar, semua tercampur.”

tulehu
Sungai yang digunakan bersama menjadi tempat mandi, mencuci, bahkan mencuci hasil laut.(Foto: potretmaluku.id/Tiara)

Kondisi itu tidak selalu dianggap masalah oleh warga, tetapi menjadi indikator penting bagi ketahanan lingkungan pesisir.

Di tengah realitas ini, sejumlah studi mencatat bahwa pencemaran sungai di Pulau Ambon, berkaitan erat dengan aktivitas domestik masyarakat. 

Penelitian Silvi G. Notanubun (2018) menunjukkan bahwa Sungai Wae Tomu mengalami penurunan kualitas, akibat meningkatnya limbah rumah tangga yang dibuang langsung tanpa proses pengolahan terlebih dahulu.

Temuan serupa juga tercatat di Sungai Arbes, tempat warga mencuci dan mandi bersama, di mana kadar koliform feses terdeteksi tinggi, sebagaimana dicatat dalam studi Muh Rijal (IAIN Ambon). 

Bahkan, penelitian oleh Fauzia Rahawarin (2020) di Sungai Batu Merah memperlihatkan fluktuasi parameter pencemar seperti BOD dan COD, yang mengindikasikan masuknya limbah organik dari aktivitas rumah tangga sehari-hari.

Meski tidak selalu dianggap mendesak oleh masyarakat, namun praktik-praktik seperti ini memberi tekanan pada sistem ekologis sungai, terutama ketika musim hujan datang lebih cepat dan deras, membawa serta limbah dari hulu hingga ke hilir.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button