Teminabuan dari Masa ke Masa*)
Menelusuri Jejak Penyebaran Agama Islam dan Kristen di Kepala Burung Bagian Selatan

Saat Perang Pasifik itu, beberapa bangunan kemudian dijadikan oleh Jepang sebagai basis pertahanan mereka. Bangunan gereja pun tidak luput dijadikan sebagai tempat pertahanan.
Namun, Sekutu yang mengetahui hal itu, kemudian membombardir bangunan gereja itu. Bangunan yang masih sederhana itu rata dengan tanah, api berkobar dimana-mana. Menurut saksi mata (eyewitness), Teminabuan dan Inanwatan seperti kota mati.
Sebuah lonceng gereja kemudian dibawa dari Inanwatan ke Kampung Waren di Ransiki (Manokwari Selatan). Selama beberapa waktu lonceng besi itu dipergunakan Jepang sebagai tanda jam kerja sebelum akhirnya dibawa ke Biak dan menjadi lonceng gereja kembali.
Setelah 79 tahun kemudian, lonceng gereja itu pun dikembalikan ke Inanwatan dan dipasang kembali di gereja GKI Bethel Inanwatan.
Baca Juga: Kunjungi Lokus Perang Wamsisil di Saparua, Menguak Sosok Misterius Pattimura
Meskipun keberadaan Jepang hanya “seumur jagung” tetapi terkadang ada peninggalan nama-nama yang identik dengan bahasa Jepang. Di Moswaren sendiri ada nama kampung Hararo dan Kamisabe serta Yohsiro. Di Kokoda, ada juga nama-nama yang mirip bahasa Jepang, yaitu Korewatara dan Migori.
Teminabuan dan Inanwatan Pasca Perang Dunia II
Tujuh tahun setelah Perang Pasifik usai, orang-orang Inanwatan banyak yang pindah ke Sorong dan bekerja di Nederlandsch Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM). Mereka ditempatkan di Klamono ataupun Kasim, Wasian dan Jeflio. Dampak Perang Dunia II yang terjadi di kawasan Kepala Burung bagian selatan, berangsur pulih.
Di Teminabuan, 15 tahun setelah Perang Dunia II, mulai dibangun jalan tembus dari Ayamaru. Jalan yang melewati Kampung Waren itu difungsikan sebagai sarana transportasi khususnya untuk mengangkut hasil perkebunan kopi yang ada Moswaren. Sebab, sebelum dan sesudah Perang Pasifik, Belanda membuka perkebunan kopi di sana.
Baca Juga: Hikayat Tanah Hitu dan Kewafatan Mihirjiguna
Hingga tahun 1990, barang peninggalan perkebunan kopi itu masih bisa dilihat. Sayangnya, sebagaimana di lokasi lainnya ada tangan-tangan jahil, di Moswaren juga akhirnya jejak peninggalan Belanda itu hilang karena ulah tangan-tangan jahil tersebut.
Menurut informasi warga Moswaren, dulu sempat melihat alat berat, senapan anti-aircraft yang besar dan juga semacam kerangkeng besi.

Pada 1994, sekitar 200 orang Jawa ditempatkan di Moswaren. Mereka disebar menjadi dua satuan pemukiman atau SP, yaitu di SP 1 dan SP 2. Karena datangnya dari arah Ayamaru, maka lokasi SP 1 terletak di bagian yang ke arah Ayamaru, sedangkan SP 2 di bagian ke arah menuju Teminabuan.
Jaab Timer menulis demikian dalam makalahnya, A Bibliographic Essay on the Southwestern Kepala Burung (Bird’s Head, Doberai) of Papua, “Just outside the Teminabuan sub-district, in the subdistrict of Aitinyo there is a so-called transmigration site in Moswaren where around two hundred Javanese attempt to make a living.”
Selain orang-orang Jawa, kini orang-orang Bugis, Buton dan Makassar atau dikenal dengan singkatan BBM juga mulai menempati kawasan sekitar Teminabuan. Begitu juga orang-orang dari Manado dan Toraja, mulai mengisi di kantor pemerintahan. Sebagian kecil orang Batak juga menjadi guru.
Baca Juga: Telusuri Bangunan Pillbox di Manokwari, Jejak “Threatre of Pacific” di Bumi Kasuari
Adalah menjadi suatu kebiasaan di kawasan Timur ini, bahwa terkadang nama-nama tempat merupakan singkatan atau akronim dari beberapa nama. Misalnya, di Kota Sorong ada nama HBM yang merupakan kependekan dari Holland Beton Maatschappij. Ada juga UT (dibaca Yu-Ti) di Kilo 13 yang berasal dari United Tractors.
Di Ayamaru, Maybrat, kita kenal juga nama Fategomi yang merupakan singkatan dari nama beberapa kampung. Kampung baru itu terdiri dari empat nama, yaitu Faan, Tehak, Gohsames dan Mirapan. Ini merupakan kampung awal dimana roda pemerintahan pernah dijalankan disana. Oleh sebab itu, dengan alasan sejarah tersebut, Fategomi layak diusulkan menjadi ibukota Kabupaten.
Di kawasan Beraur (Berau) yang mencakup kampung Suku Kokoda, ada nama Nebes. Kampung Nebes merupakan singkatan dari Negeri Besar. Negeri Besar sendiri telah mengalami beberapa kali pemekaran sehingga memunculkan banyak kampung baru lagi. Bahkan, kini sudah menjadi Distrik Kokoda dengan ibukota di Kampung Tarof.(*)
Catatan:
*) Selesai ditulis pada Jumat, 18 November 2022 pkl. 05:56 WIT di Kampung Wermit, Distrik Teminabuan, Kab. Sorong Selatan (Papua Barat).
**) Penulis merupakan Ikon Prestasi Pancasila 2021 Katagori Sosial-Enterpreneur dan Kemanusiaan yang juga Pembina Nasional Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAAI). Tinggal di Manokwari, Papua Barat.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



