Teminabuan dari Masa ke Masa*)
Menelusuri Jejak Penyebaran Agama Islam dan Kristen di Kepala Burung Bagian Selatan

Pekabaran Injil di Teminabuan dan Inanwatan
Menurut catatan sejarah gereja, ada dua missi Kristen yang masuk ke Teminabuan dan Inanwatan. Missi pertama berasal dari Utrechtse Zendingsvereniging (UZV) yang berasal dari denomimasi Protestan.
Sedangkan missi kedua berasal dari Doopsgezinde alias Mennonite (Katolik). Missi Protestan Belanda mulai bekerja di Inanwatan sejak 1918.
Tujuan utama penyebaran agama Kristen itu adalah mengikuti saran dari Heldring yang menyatakan bahwa Tanah Papua “masih dalam kegelapan” (waar het nog nacht is).
Baca Juga: Jejak Perang Pasifik di Babo*)
Oleh sebab itu kerja missi bukan hanya “karena kebutuhan untuk menyelamatkan tanah ini dari poligami, perbudakan, despotisme, takhayul, penyembahan berhala dan penyebaran Islam, tetapi juga karena bahaya politik meninggalkan daerah yang kaya dan menjanjikan ini”.
Bahaya politik yang dimaksud adalah keberadaan Inggris dan Jerman. Apabila missi tidak meluaskan pengaruhnya, maka otomatis pemerintahan juga biasanya tidak terbentuk di tempat itu. Bila pemerintahan tidak ada disana, maka dipastikan pos militer atau polisi pun tidak ditempatkan disana.
Ini berarti, bahwa keberadaan missi harus ditindaklanjuti dengan pembentukan pemerintahan setempat. Inilah yang biasanya terjadi.
Baca Juga: Mengenang Kembali Revolusi Kain Timor di Ayamaru Papua Barat
Teminabuan dan Inanwatan pada Masa Nederlansch Nieuw Guinea
Setelah missi Katolik mulai berkembang di Fak Fak dan Manokwari, maka roda pemerintahan pun dibentuk. Pada 1898, atau empat tahun setelah keberadaan missi Katolik di Fak Fak, dibentuklah Afdeeling North Nieuw Guinea dan Afdeeling South & West Nieuw Guinea.
Kedua afdeeling itu berada di bawah Residensi Ternate. Ini ditetapkan melalui Besluit van den Gouverneur-General van Nederlandsch Indie No. 19 tgl. 5 Februari 1898 yang dimuat dalam Staatblad van Nederlandsch Indie No. 142 tahun 1898.
Baca Juga: Hikayat Tanah Hitu dan Kewafatan Mihirjiguna
Hingga tahun 1934, Inanwatan masih berada di bawah Onderafdeeling Fak Fak. Dua tahun kemudian, barulah Inanwatan (Inanuiatan) ditetapkan sebagai Onderafdeeling di bawah Afdeeling West & South Nieuw Guinea bersama empat Onderafdeeling lainnya, yaitu Fak Fak, Mimika, Boven Digoel dan South Nieuw Guinea. Sedangkan Afdeeling North Nieuw Guinea mencakup Onderafdeeling Manokwari, Sorong, Middle Vogelkop, Serui dan Hollandia.
Setelah Inanwatan menjadi Onderafdeeling, maka pembangunan pun semakin ditingkatkan sejak 1936-1940 itu. Gereja merangkap rumah sakit dibangun di Inanwatan (Kerk en landschapshospitaal te Inanwatan).

Begitu pula usaha yang bergerak dalam pembuatan perahu dan pemotongan pelat baja (Papoea bezig met het cirkelsnijden van stalen platen).
Sedangkan Teminabuan baru menjadi Afdeeling setelah tahun 1954 ketika Ayamaru diubah statusnya menjadi Onderafdeeling dengan seorang Adspirant-Controleur. Pada tahun itu pula terjadi perubahan ibukota Afdeeling, yang tadinya berada di Sorong dipindahkan ke Manokwari. Begitu juga yang sebelumnya di Bintuni (Steenkol) dipindahkan ke Ayamaru.
Pada masa inilah, empat tahun kemudian, dibuat jalan tembus antara Teminabuan dan Ayamaru. Insinyur Uyleman menggarap pembangunan jalan itu mulai November 1958. Dua tahun kemudian, jalan itu pun diresmikan. Tugu peresmiannya terdapat di Ayamaru, berupa linggis, cangkul dan sekop yang ditanam dalam coran semen berbentuk kubus. Sebuah tiang bendera juga disiapkan di dekatnya.
Baca Juga: Telusuri Bangunan Pillbox di Manokwari, Jejak “Threatre of Pacific” di Bumi Kasuari
Karena Teminabuan menjadi tempat tinggal hoofd van platselijk bestuur (HPB) alias kepala pemerintahan lokal setingkat wedana, maka di Teminabuan juga dibangun sarana seperti sebelumnya di Ayamaru. Sarana itu mencakup kantor sekaligus rumah dinas (een bestuurkantoor), rumah dinas kepala polisi (hoofd van politiewoning), asrama polisi (politiebarak), poliklinik (een polikliniek) dan sarana lainnya.
Teminabuan dan Inanwatan pada Masa Jepang
Setelah Jepang menguasai Fak Fak pada 2 April 1942, maka Inanwatan dan Teminabuan pun ditaklukkan juga. Sebagaimana terjadi di tempat lainnya, di Teminabuan dan Inanwatan pun terjadi kekejaman Jepang.
Para pejabat pemerintah dan missionaris biasanya diinternir ke luar Papua. Ada yang dibuang ke Medan, ada yang sementara ditempatkan sebagai tahanan di Makassar dan tempat lainnya.
Baca Juga: Mengenal Negara Curacao Unikameral, Tempat Asal Suami Kopral Costavina “Cosje” Ayal
Pesawat Sekutu dari Royal Australian Air Force (RAAF) mengalami kecelakaan (crash) saat menyerang Jepang di Teminabuan pada 28 April 1944.
Pesawat itu dikenal dengan sebutan “Maggie” alias Catalina PBY-A54 dengan nomor kode A24-49 FJ-L. Hingga sekarang tidak diketahui lokasi jatuhnya pesawat itu dan beberapa pesawat lainnya. Pesawat mengangkut 10 personel.
Personel Sekutu yang hilang (missing in action) adalah:
(1) Pilot P/O Warwick Neville Rose, 400939,
(2) 2nd Pilot F/O Allan Roger Meakin, 418142,
(3) Navigator F/Sgt L. W. Stringer, 419679,
(4) W/AG F/Sgt Alexander John Hine, 415327,
(5) W/AG F/Sgt James William Willesden,
(6) W/AG F/Sgt J. B. Miller, 406811,
(7) Flight Engineer Sgt Alfred Harvey Brooks Wadham, 28840,
(8) Flight Engineer Sgt Herbert John Alexander Coates, 35037,
(9) Air Gunner Sgt Philip Charles Carter, 34396 dan
(10) Air Gunner Sgt George Wise Whitley, 41312.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



