Pendapat

Puisi yang Bermakna: Catatan Bukber Satupena dan Komunitas Puisi Esai

Kini giliran “presiden seumur hidup”, Sutardji Calzoum Bachri. Ayah Tardji, demikian saya biasa memanggilnya, membacakan empat puisinya. Tiga di antaranya berjudul “Cermin”, “Ramadhan” dan “Lebaran”. Ada sebuah puisi yang menyiratkan keinginannya untuk makin dekat dengan Allah. Ini terlihat dari puisi “Ramadhan”. Penggalannya adalah berikut ini:

“…Telah kulaksanakan sholat malam
Telah kuuntai wirid malam dan siang…
……
Dan di malam-malam qadar, aku termenung
Tapi tak bersua Jibril dan malaikat …
…..
Aku bilang, Tarji..
Rindu yang kau rindukan setiap malam
Belumlah cukup untuk menggerakkan Ia datang
Namun, si bandel Tardji ini, sekali merindu takkan melupa
Takkan kulupa janji-Nya
Bagi yang merindu, insyallah akan ada mustajab cinta
Maka, walau tak jumpa dengan-Nya
Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini
Semakin mendekatkan aku pada-Nya…”

Juga ada sebuah puisi dari Presiden Penyair Indonesia ini yang mengkritik perilaku manusia — yang “menangis saat beribadah”, tapi kemudian berganti perilaku selesai beribadah. Bisa jadi inilah gambaran paradoks atau hipokrit manusia. Simaklah penggalan berikut ini dari puisi ”Cermin”:

“…Dalam salat engkau menangis
Dan banjir tangismu hanya sebatas sajadah
Di luar rakaat engkau ngakak
Engkau terkekeh-kekeh
Engkau melupa
Jahanam
Sudah masanya engkau lepas landas dari dunia ini
Sudah waktu
Kalau tidak
Engkau tetap jadi keledai


Engkau merindu
Tangan-tangan juga yang engkau genggam
Engkau mendamba hakikat
Tapi remah-remah juga yang kau telan
Engkau mencinta Dia
Namun syahwat yang engkau sibukkan
Engkau takut busuk
Namun dengan daging engkau berkawan
Engkau bilang takut nanah
Tapi engkau asyik dengan darahmu yang tergenang
Engkau tidak mengalir
Mangkrak”

Itulah Sutardji Calzoum Bachri. Menjelang 83 tahun pada 24 Juni 2024 nanti, ia tetaplah seorang legenda hidup di dunia penyair dan sastra Indonesia.

Masih ada lagi tampilan-tampilan menarik lain dari Jose Rizal Manua, Fatin Hamama (Ketua Komunitas Puisi Esai), Jamal D. Rahman dan Jodhi Yudono. Tak ketinggalan hadir dua generasi muda, Monika (membawakan puisi esai karya Bang Denny JA) dan Anggun (membawakan puisi karya Sapardi Djoko Damono). Tentu jangan dilupakan denting piano bernuansa religius dari maestro pianis Indonesia, Marusya Nainggolan.

Tak pelak acara Tadarus Puisi ini memang sarat makna dan memberikan oleh-oleh renungan bagi yang hadir. Semoga tetap ada puisi yang bermakna beserta sastra yang menggugat. Mereka selalu diperlukan, terlebih di saat kehidupan makin dibuat hingar-bingar oleh “politik gaya tertentu”, seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Jika politik itu kotor, puisi yang akan membersihkan. Jika politik bengkok, sastra yang akan meluruskan.” (John Fitzgerald Kennedy).

23 Maret 2024

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button