OlahragaPendapat

Piala Dunia 2026 Selesai, Sepak Bola Maluku Kapan Mulai?

Piala Dunia 2026 telah berakhir. Berbagai rekor dan drama tersaji di event sepakbola 4 tahunan ini. Semangat, putus asa, dukungan, kemenangan, kekalahan, perayaan, kesedihan, kegembiraan, intrik, politik, kecurangan, kekecewaan, air mata, senyuman, dan tarian terakhir beberapa maestro sepakbola era ini, telah dinikmati penonton sepakbola sejak sebulan terakhir. 

48 Negara peserta dari 6 konfederasi regional, UEFA, CAF, AFC, CONCACAF, CANMEBOL dan OFC, telah mempertontonkan progres perkembangan sepakbola saat ini. 

Tanjung Verde, RD Kongo, Curacao, Haiti, Iran, Jepang, menjadi beberapa negaranegara kecil yang menunjukkan bahwa sepakbola bukan hanya milik segelintir tim Eropa atau Amerika Latin. 

Curacao, walau dipertandingan pertama dibantai Jerman 7 gol, tapi kebanggaan lainnya muncul dari negara yang berpenghuni 185.440 jiwa ini, mereka berhasil menorehkan gol pada kali pertama mengikuti ajang besar sepakbola dunia, dan tak tanggung-tanggung membobol gawang tim 4 kali juara dunia. 

Tanjung Verde, mampu menyulitkan Argentina di fase 32 besar hingga 2 babak extra time. Begitupun Jepang, yang membuat tim samba Brazil harus berusaha “comeback”, membalikkan kedudukan di menit perpanjangan waktu normal. 

Dari sinilah bisa diasumsikan bahwa sepakbola saat ini mulai merata perkembangannya di seluruh dunia. Taktik/strategi tim, skill, bakat pemain, dan keahlian juru racik bukan lagi hanya menjadi milik negara-negara besar sepakbola. 

Tanjung Verde, menjadi tim ajaib yang muncul di ajang ini, tapi menurut penulis, Jepang, sedang menjadi barometer sepakbola dunia saat ini. Perkembangan sepakbola yang pesat, menjadikannya dijuluki The Giant Killer. Spanyol, Jerman, Brazil dan Inggris pernah merasakan kekalahan dari Negara yang berpenduduk 123 juta jiwa ini. 

Walau harus gagal di 32 besar dipulangkan oleh Brazil, Jepang mampu membuat jantungan seisi Houston stadium, di Houston, Texas. Bukan tanpa proses, sepakbola Jepang berkembang dengan kolaborasi dan perencanaan visi jangka panjang yang berkelanjutan. Jepang Football Association (JFA), PSSI-nya Jepang, berhasil menggabungkan konsep sepakbola terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan, “JFA 100-Year Vision”. 

Dimana pembinaan usia dini yang disiplin sejak level sekolah, pemanfaatan sains, teknologi, dan dukungan kompetisi yang profesional, serta mendorong juga memfasilitasi pemain muda untuk merumput di Eropa. 

Sepakbola Indonesia bagaimana? 


Penulis :
Editor :

1 2 3 4 5 6Next page

Berita Serupa

Back to top button