
Oleh : Dr. M.J. Latuconsina, S.IP, MA (Staf Dosen Fisipol, Universitas Pattimura)
“Amerika adalah satu-satunya tempat di mana keajaiban tidak hanya terjadi, tetapi terjadi sepanjang waktu.” Demikian ungkapan fenomenal tentang Negeri Paman Sam oleh Thomas Clayton Wolfe (1900-1938), seorang sastrawan berkewargenegaraan Amerika Serikat, yang populer melalui salah satu novel legendarisnya berjudul : “The Web and the Rock”, yang dirilis setelah ia wafat di tahun 1939 lampau.
*
Tentu tidak terdapat qoutes dari sastarwan yang lahir di Asheville, Carolina Utara, Amerika Serikat pada 3 Oktober 1900 tersebut, dalam novel karya Franz Kafka (1883-1924), yang berjudul : “Amerika”. Hanya saja ada relasi antara qoutes Thomas Clayton Wolfe dengan novel yang ditulis oleh sastarawan keturunan Yahudi asal Ceko tersebut. Pasalnya alur kisahnya seputaran negara adidaya itu.
Novel karya Franz Kafka yang berjudul : “Amerika” ini merupakan novel pertamanya, yang tidak pernah selesai. Novel ini ditulis antara tahun 1911 dan tahun 1914 dalam bahasa Jerman, dengan judul otentiknya : “Der Verschollene ( “Yang Hilang”). Karya sastra ini telah dialibahasakan dari bahasa Jerman ke dalam berbagai bahasa di belahan dunia.
Tidak terkecuali novel ini juga telah dialihbahasakan dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia. Pada tahun 2025 lalu, penerbit Unit Merdeka Bernas Ilham (UMBI), yang beralamat di Sleman, Yogyakarta telah menerbitkan novel berjudul : “Amerika” dari penulis yang sering memadukan unsur-unsur realisme, dan fantasi dalam karya sastranya tersebut.
Novel karya Franz Kafka ini meskipun tipis jumlah halamannya, dimana hanya 108 halaman. Tapi, tentu menarik khalayak pembaca, yang menyukai bacaan-bacaan bernuansa sastra. Novel ini, hanya dalam tiga alur kisah yakni : 1) Juru Api, 2) Sang Paman, dan 3) Rumah Pedesaan di Dekat New York. Semuanya kisahnya dipaparkan dengan ringan, dimana mudah dipahami para pembaca.
Novel ini mengisahkan Karl Rossmann pemuda berusia 16 tahun, ia tokoh utama dalam karya sastra ini. Rossmann terpaksa meninggalkan Eropa, dengan menggunakan kapal uap, setelah ia terlibat dalam sebuah skandal dengan seorang pelayan rumah tangga. Ia diutus oleh keluarganya untuk memulai hidup baru di Amerika. Rossmann tiba dinegeri yang penuh janji, tapi juga penuh dengan tantangan tersebut.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota besar, Rosmann berjuang dengan gigih, untuk menemukan tempatnya dalam dunia yang asing dan penuh keganjilan. Menghadapi kenyataan tersebut, Rosman harus menyesuaikan diri dengan tempat yang baru, yang untuk pertama kalinya ia juga baru menginjakan kakinya di sana.
Meskipun karya sastra dalam bentuk novel ini, tidak terlampau panjang. Namun memaparkan seorang imigran Eropa, yang bersusah payah pergi ke Amerika, dengan sebelumnya telah berulah. Kenyataan kehidupan di Negeri Paman Sam itu, tidak gampang-gampang saja, dimana Rosmann menerima kenyataan pahit. Famlynya memperlakukannya tidak baik, hingga terombang-ambing di dalam masyarakat kapitalis yang asing dan eksploitatif.
*
Kenyataan pahit yang dirasakan Rosmann di Amerika dalam dunia fiksi tersebut, membenarkan qoutes rill dari el-Hajj Malik el-Shabazz, yang populer dengan nama Malcolm X (1925-1965), seorang tokoh Muslim Afrika-Amerika, dan aktvis Hak Asazi Manusia bahwa. “saya tidak melihat impian Amerika; yang saya lihat adalah mimpi buruk Amerika.”(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



