potretmaluku.id – Dewan juri Sayembara Cipta Puisi dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-451 Kota Ambon menetapkan para pemenang kompetisi, Kamis, 17 September 2026. Penyair Marianna Claartje Nussy keluar sebagai Juara I lewat karyanya yang berjudul Senja di Kaki Gunung Sirimau.
Lomba penulisan puisi ini diselenggarakan oleh lembaga kemanusiaan Clerry Cleffy Institute bekerja sama dengan media siber potretmaluku.id dan porostimur.com.
Kompetisi dinilai oleh dewan juri yang terdiri atas Dwi Prihandini dari Clerry Cleffy Institute, Embong Salampessy mewakili potretmaluku.id, serta Dino Umahuk dari porostimur.com.
Marianna menempati peringkat teratas setelah menyisihkan puluhan karya peserta. Juara II diraih oleh Narapetra dengan karya berjudul Membaca Ambon Dalam Diri Seseorang, sedangkan Aletheia Chr. Pattiasina menduduki Juara III lewat puisi bercorak modern, Ambon After Rain.
Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian tema dengan semangat HUT ke-451 Kota Ambon, orisinalitas gagasan, kedalaman penghayatan terhadap Ambon dan masyarakatnya, kekuatan diksi, imaji, metafora, simbol dan majas, struktur serta musikalitas puisi.
Selain itu, dewan juri juga melihat kekuatan emosional, daya gugah, serta kemampuan penyair menghadirkan identitas Ambon secara kreatif, bukan sekadar melalui penggambaran tempat dan ikon kota.
Puisi “Senja di Kaki Gunung Sirimau” karya Marianna Claartje Nussy dinilai memiliki kekuatan utama dalam menghadirkan Ambon sebagai ruang hidup yang konkret, dekat dan akrab.
Ambon tidak dijelaskan secara konseptual, tetapi hadir melalui pengalaman keseharian: aroma kopi, sagu bakar, ikan asar, colo-colo, papeda, kuah ikan kuning, pala, cengkeh, sageru, suara tifa dan jukulele, pancuran di belakang rumah hingga Gunung Sirimau.
Bagi dewan juri, rangkaian pengalaman tersebut membuat Ambon tampil bukan sekadar sebagai nama sebuah kota, melainkan sebagai rumah, keluarga, tradisi, kuliner, bunyi, aroma, alam dan kenangan.
Penggunaan bahasa Melayu Ambon juga menjadi salah satu kekuatan puisi. Kata-kata seperti “beta”, “seng”, “bataria”, “biking”, “talalu sadap”, “dapa lia” dan “pono” dinilai hadir secara natural sebagai bagian dari suara penyair.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



