Suketi di Jalan Melati
Oleh: Lommie Ephing
Kurang dari dua jam setelah Komandan Gunadi berpamitan pulang ke markasnya, dua orang tentara berpakaian preman tiba-tiba datang menyambangi kamar indekos Suketi di jalan melati. Kerasnya suara gedoran pintu tak pelak memaksa janda Karyono itu menyudahi kesibukannya menggosok sabun mandi batangan di area selangkangan.
Sambil menahan diri untuk tak melontarkan makian serta sumpah serapah sadis, Suketi lekas membasuh tangan, cepat-cepat melilitkan handuk tipis warna hijau telur asin di tubuhnya, lalu beranjak menemui keduanya, tak peduli rambutnya yang kuyup masih berlumur busa sampo beraroma jeruk nipis.
Suketi membuka pintu. Tepat di hadapannya dua orang laki-laki berkaus abu-abu dan bertopi gelap sontak menatapnya dari atas, lalu ke bawah, lalu kembali lagi ke atas. Mereka masih sangat muda. Boleh jadi usia keduanya mungkin bakal sepantaran dengan almarhum Teguh Santoso, putra semata wayangnya Suketi yang mati di jalan setahun lalu sebab dipukuli massa lantaran kedapatan menjambret tas tangan―yang rupanya tak ditemukan barang berharga di dalamnya selain sekotak kondom dan karet rambut―milik seorang pelacur baru bernama Nurlela.
Suketi menduga kedua lelaki itu belum lama dilantik, mengingat masing-masing mereka masih memiliki tubuh ramping, berkulit cokelat hasil paparan terik matahari, sehat bugar dengan sepasang mata jernih namun tajam laiknya kuda jantan muda yang tengah berahi.
Kini, giliran Suketi yang menatap balik keduanya, lekat-lekat. Mudah bagi perempuan berdada montok itu menaksir seberapa besar kemaluan di balik risleting celana jins hitam yang mereka kenakan hari itu, dengan hanya melihat bentuk cuping hidung mereka.
Tidak perlu heran, sebab telah banyak dia cecap pelbagai kemaluan lelaki, mulai dari warga lokal hingga turis Mancanegara. Tapi Suketi sedang tidak tertarik memerhatikan bagian itu, sekarang.
“Datang lagi besok. Sekarang aku lagi malas dientot,” ujarnya sambil menatap wajah keras keduanya bergantian, lalu bermaksud menutup pintu, tapi gagal. Salah satu dari lelaki di hadapannya tiba-tiba menahan pintu dengan sebelah kaki sambil bergumam, “Kami kemari bukan untuk itu!”
Suketi praktis terkesiap. Ini sedikit aneh, sebab sejauh yang dia ingat, semua laki-laki yang datang mencarinya pagi-siang-sore-malam, baik yang dekat maupun yang datang jauh-jauh dari luar kota, hampir dengan tujuan yang sama persis, yakni hanya supaya bisa mereguk nikmat madu birahi alias bercinta sepuasnya dengan dirinya. Namun jawaban singkat itu cukup memberi alasan bagi perempuan itu untuk menatap manik mata lawan bicaranya sekali lagi.
Benar. Memang tak ada sorot mata kurang ajar tersirat di sana. Tiada pula isyarat kegenitan yang menjelma hasrat birahi pada mata lelaki yang satunya. “Kalian berdua siapa? Dan, mau apa kalian datang kemari?” Lidah Suketi yang sudah sedemikian gatal pada akhirnya melempar tanya.
Sayangnya, pertanyaan Suketi tak langsung ditanggapi. Lelaki berahang tegas dan berkulit cokelat tersebut sesaat memilih merogoh sebatang rokok kurus dari saku celana kemudian membakarnya menggunakan sebuah pemantik kuno sewarna perak mengilat. “Kami berdua tentara. Nama saya Arifin Budianto, dan dia rekan saya, namanya Hardi. Boleh kami masuk?” ujarnya setelah mengembuskan asap rokok dari rongga bibirnya yang kemerah-merahan.
Penulis :
Editor :



